Dampak Abu Vulkanik, Ratusan Siswa SDN Banjarsari 5 Belajar dari Rumah
- 07 Sep 2026 10:03 WIB
- Banten
Poin Utama
- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memaksa SDN Banjarsari 5 Kota Serang mengalihkan pembelajaran ke sistem jarak jauh pada 7 September 2026.
- Sebanyak 779 siswa melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) termasuk menyelenggarakan upacara bendera secara daring.
- Kepala Sekolah Anton Setiadi berupaya menjaga rutinitas harian siswa meski pembelajaran harus dilakukan melalui layar ponsel.
RRI.CO.ID, Serang – Guyuran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memaksa kegiatan belajar mengajar di SDN Banjarsari 5 Kota Serang dialihkan ke rumah, Senin, 7 September 2026. Sebanyak 779 siswa terpaksa mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), termasuk menggelar upacara bendera secara daring.
Kepala SDN Banjarsari 5, Anton Setiadi mengungkapkan, pihak sekolah berusaha menjaga rutinitas harian murid meski harus bertatap muka lewat layar ponsel.
“Bukan cuma pelajaran, pembiasaan seperti upacara bendera juga tetap jalan secara daring. Anak-anak ikut upacara dari rumah masing-masing,” kata Anton, Senin, 7 September 2026.
PJJ di Kota Serang ini digelar berdasarkan Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Pihak sekolah kini masih menunggu instruksi lanjutan apakah PJJ bakal diperpanjang atau tidak.
Anton mengingatkan para murid untuk membatasi aktivitas di luar dan tidak melepas masker jika terpaksa keluar rumah demi menghindari paparan abu vulkanik.
“Pesan untuk anak-anak tetap di rumah, tetap menggunakan masker jikapun itu terpaksa harus keluar rumah, jangan lupa menggunakan masker dan tetap jaga kesehatan,” ujar Anton.
Guru Kelas 6C SDN Banjarsari 5, Euis, mengatakan kelasnya memiliki 28 siswa. Pada hari pertama PJJ, siswa mendapatkan materi IPAS dan Bahasa Inggris melalui Google Meet.
“Ini kita tadi bagi link via Google Meet. Jadi anak-anak sudah diberikan link-nya, tinggal menunggu anak-anak gabung,” kata Euis.
Namun, pelaksanaan PJJ hari pertama ini tak lepas dari keluhan wali murid. Dia menjelaskan, keterbatasan gawai dan jam kerja orang tua menjadi ganjalan utama.
“Ada orang tua yang khawatir karena anaknya jadi harus pegang HP berjam-jam. Ada juga murid yang tak punya HP sendiri, jadi orang tuanya harus bolak-balik dari tempat kerja buat meminjamkan HP,” ucap Euis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....