Permintaan Ekspor Rajungan Tetap Tinggi Meski Pasokan Nelayan Menurun

  • 05 Agt 2026 10:58 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Permintaan rajungan dari pabrik pengolahan untuk ekspor tetap tinggi meskipun pasokan dari nelayan Karangantu terus berkurang selama musim angin timur.
  • Pelaku usaha pengupasan rajungan, termasuk Philips Mandiri, belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pabrik pengolahan karena menurunnya hasil tangkapan nelayan.
  • Musim angin timur menyebabkan penurunan signifikan dalam jumlah rajungan yang dapat diproses setiap hari oleh perusahaan pengupasan.

RRI.CO.ID, Serang – Permintaan rajungan dari pabrik pengolahan untuk kebutuhan ekspor masih tinggi meski pasokan dari nelayan di pesisir Karangantu, Kota Serang, terus berkurang selama musim angin timur. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha pengupasan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pabrik.

Pengelola usaha pengupasan rajungan Philips Mandiri, Markani mengatakan, hingga kini pabrik pengolahan masih meminta pasokan dalam jumlah besar. Namun, hasil tangkapan nelayan yang menurun membuat jumlah rajungan yang dapat diproses setiap hari ikut berkurang.

"Kalau pabrik maunya barang banyak. Saya terbatas pasokan dari nelayan. Yang masuk tetap diproses, tapi belum bisa memenuhi semua permintaan," kata Markani, Rabu, 5 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, saat pasokan melimpah usahanya mampu mengolah sekitar lima kuintal rajungan per hari, bahkan dapat mencapai tujuh kuintal. Memasuki musim angin timur, produksi turun menjadi sekitar dua kuintal per hari karena hasil tangkapan nelayan berkurang.

"Kalau sekarang paling dua kuintal yang diproses. Memang lagi kurang hasil tangkapannya," ujarnya.

Menurut Markani, berkurangnya pasokan dipengaruhi musim angin timur yang telah berlangsung hampir dua bulan. Pada periode ini, rajungan yang didaratkan nelayan umumnya masih berukuran kecil sehingga hasil tangkapan tidak sebanyak saat musim barat.

"Kalau musim timur rajungan kebanyakan kecil. Baru tumbuh, tidak seperti musim barat yang besar dan padat isinya," ucapnya.

Rajungan yang telah dikupas kemudian dikirim ke sejumlah pabrik pengolahan di Bogor, Rembang, dan Pemalang sebelum diolah untuk memenuhi pasar ekspor. Meski permintaan tetap tinggi, pengiriman dilakukan sesuai kemampuan pasokan yang tersedia setiap hari.

Markani mengatakan sedikitnya dua kuintal rajungan harus selesai diproses setiap hari oleh sekitar 10 pekerja pengupas. Apabila pasokan melebihi kapasitas produksi, sisa rajungan akan diproses pada hari berikutnya.

"Minimal dua kuintal harus selesai diproses. Kalau barang lebih, sisanya dikerjakan besok," katanya.

Di tengah keterbatasan pasokan, ia tetap mempertahankan seluruh pekerjanya. Menurutnya, keberlangsungan usaha tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan nelayan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi para pekerja yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga di sekitar Karangantu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....