Rajungan Mengecil saat Musim Timur, Harga Jual Justru Naik hingga Rp150 Ribu

  • 04 Agt 2026 15:50 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Musim angin timur menyebabkan rajungan yang tertangkap didominasi oleh ukuran kecil karena masih dalam fase pertumbuhan dari perairan dangkal.
  • Harga jual rajungan di tingkat nelayan meningkat signifikan mencapai Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram meskipun kualitas tangkapan menurun.
  • Perbedaan musim mempengaruhi karakteristik rajungan, dengan musim timur menghasilkan rajungan dengan isi daging yang belum sepadat pada musim hujan.

RRI.CO.ID, Serang – Musim angin timur mengubah hasil tangkapan nelayan rajungan di pesisir Karangantu, Kota Serang. Rajungan yang didaratkan kini didominasi ukuran kecil karena masih dalam masa pertumbuhan. Meski kualitas tangkapan menurun, harga jual di tingkat nelayan justru terus naik dan kini mencapai Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.

Pengelola usaha pengupasan rajungan Philips Mandiri, Markani mengatakan, ukuran rajungan saat musim timur berbeda dibanding musim barat. Pada musim ini, rajungan lebih banyak berasal dari perairan dangkal sehingga ukuran dan isi dagingnya belum sepadat saat musim hujan.

"Kalau musim timur rajungan kebanyakan kecil. Baru tumbuh, tidak seperti musim barat yang besar dan padat isinya. Kalau musim hujan atau musim barat, rajungan lebih berat karena isinya penuh," kata Markani, Selasa, 4 Agu

Markani menjelaskan kenaikan harga tidak selalu dipengaruhi banyak atau sedikitnya hasil tangkapan nelayan. Selama permintaan dari pabrik pengolahan masih tinggi, harga cenderung bertahan meski pasokan berubah.

"Kalau pabrik maunya barang banyak. Yang penting rajungan yang masuk bisa diproses. Jadi harga tidak selalu turun saat barang lagi banyak," katanya.

Ia menyebut musim angin timur telah berlangsung hampir dua bulan. Selama periode tersebut, pasokan rajungan ke tempat pengupasan ikut berkurang karena hasil tangkapan nelayan didominasi rajungan muda.

"Sudah hampir dua bulan musim timur. Rajungan yang masuk memang lebih banyak ukuran kecil," ucapnya.

Rajungan yang dibeli dari nelayan selanjutnya dikupas sebelum dikirim ke sejumlah pabrik pengolahan di Bogor, Rembang, dan Pemalang. Dari pabrik tersebut, produk rajungan kemudian dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Markani mengatakan permintaan dari pabrik hingga kini masih tetap tinggi. Namun, keterbatasan pasokan selama musim angin timur membuat pelaku usaha belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pengiriman.

"Kalau pabrik maunya lebih banyak, tapi saya terbatas pasokan dari nelayan. Yang penting barang yang masuk bisa langsung diproses," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....