Pemkot Serang Waspadai Kenaikan Harga Pangan Usai Musim Haji
- 22 Jun 2026 08:54 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Pemerintah Kota (Pemkot) Serang mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga bahan pangan memasuki periode pasca-musim haji. Meningkatnya aktivitas masyarakat, mulai dari syukuran kepulangan jemaah hingga resepsi pernikahan, diperkirakan akan mendongkrak permintaan sejumlah komoditas di pasar.
Asisten Daerah II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Kota Serang, Yudi Suryadi mengatakan, periode setelah musim haji kerap diikuti peningkatan konsumsi pangan masyarakat. Kondisi tersebut perlu diwaspadai agar tidak memicu gejolak harga kebutuhan pokok.
"Biasanya setelah musim haji banyak kegiatan syukuran dan pernikahan. Kondisi ini perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan permintaan sejumlah komoditas pangan," kata Yudi, Senin 22 Juni 2026.
Menurut dia, sejumlah komoditas yang selama ini rentan mengalami kenaikan harga masih menjadi perhatian, terutama cabai merah dan cabai keriting. Kedua komoditas tersebut tercatat menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Serang dalam beberapa bulan terakhir.
Data hingga Mei 2026 menunjukkan inflasi tahunan (year on year) Kota Serang berada di angka 3,3 persen. Angka tersebut meningkat dibanding periode sebelumnya yang berada di kisaran 3,1 persen, namun masih berada di bawah batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen.
"Kalau dilihat year on year memang ada kenaikan dari 3,1 persen menjadi 3,3 persen. Tapi masih di bawah batas atas target inflasi nasional yang berada di angka 3,5 persen," ujarnya.
Selain memantau perkembangan harga, Pemkot Serang bersama instansi terkait melakukan pengawasan distribusi komoditas pangan hingga tingkat pedagang. Langkah itu dilakukan untuk memastikan pasokan tersedia dan tersebar merata di pasar.
"Distribusi komoditas pangan ke pedagang dikawal supaya penyalurannya merata dan tidak menumpuk pada satu pihak saja," katanya.
Di sisi lain, Yudi juga menyoroti perkembangan harga minyak goreng yang masih menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, sebagian pedagang mulai mengurangi stok Minyakita karena selisih harga dengan minyak goreng kemasan premium semakin tipis.
"Dulu Minyakita menjadi pilihan karena harganya jauh lebih murah. Sekarang harga jual di lapangan ada yang mencapai Rp20 ribu sampai Rp21.500 per liter sehingga sebagian pedagang memilih tidak mengambil stok lagi," ujarnya.
Berdasarkan pemantauan harga awal Juni 2026, rata-rata harga Minyakita berada di kisaran Rp16.133 per liter. Sementara minyak goreng tanpa merek dijual sekitar Rp19 ribu per liter dan minyak goreng premium mencapai sekitar Rp26 ribu per liter.
Untuk menjaga stabilitas harga menjelang peningkatan permintaan pasca-musim haji, pemerintah menyiapkan operasi pasar, pasar murah, dan pasar bersubsidi dengan fokus pada komoditas yang mengalami kenaikan harga. Ia menilai pengendalian inflasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Kalau ada pasar murah atau pasar bersubsidi, yang dijual adalah barang-barang yang sedang tinggi harganya. Tujuannya untuk menekan harga di pasaran," kata Yudi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....