Pesantren Disiapkan Jadi Pusat Literasi Masyarakat Lebak

  • 18 Apr 2026 21:20 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • 10 pesantren di Lebak dibina menjadi pusat Perpustakaan dan Budaya literasi bagi lingkungan pesantren dan masyafakat sekitar
  • konsep yang diterapkan adalah pembinaan dan pendampingan kepada pesantren dalam pengelolaan perpustakaan.
  • sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program literasi di daerah.
  • program ini dapat menjadi model pengembangan literasi berbasis komunitas yang berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Lebak - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lebak, mulai menginisiasi program pembentukan perpustakaan di lingkungan pesantren pada tahun 2026. Program ini menargetkan 10 pesantren yang akan dijadikan percontohan sebagai pusat literasi berbasis komunitas.

Langkah tersebut diambil sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang memiliki akses terbatas terhadap fasilitas perpustakaan umum. Pesantren dinilai memiliki potensi besar karena menjadi pusat aktivitas pendidikan dan keagamaan.

Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lebak, Kadarina menyampaikan, program ini masih dalam tahap uji coba. Namun, pihaknya optimistis program tersebut dapat memberikan dampak positif.

“Melalui program ini, kami berharap pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga menjadi pusat literasi bagi masyarakat sekitar,” ujar Kadarina di Rangkasbitung, Sabtu, 18 April 2026.

Ia menjelaskan, konsep yang diterapkan adalah pembinaan dan pendampingan kepada pesantren dalam pengelolaan perpustakaan. Mulai dari penyediaan buku, sistem administrasi, hingga pelatihan pengelola. Selain dimanfaatkan oleh santri dan tenaga pengajar, perpustakaan pesantren juga akan dibuka untuk masyarakat umum.

Dengan demikian, keberadaan pesantren dapat lebih dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar. Kadarina menambahkan, pihaknya juga akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

“Program ini masih tahap uji coba tahun ini, sehingga kami akan melihat sejauh mana efektivitasnya sebelum diperluas ke lebih banyak pesantren,” katanya.

Menurutnya, minat baca masyarakat masih perlu terus didorong melalui berbagai inovasi layanan perpustakaan. Salah satunya dengan mendekatkan fasilitas membaca ke pusat aktivitas masyarakat. Selain di pesantren, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lebak juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah puskesmas.

Program ini bertujuan menghadirkan layanan perpustakaan di fasilitas kesehatan. Dengan adanya perpustakaan di puskesmas, masyarakat yang sedang menunggu pelayanan kesehatan dapat memanfaatkan waktu untuk membaca. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan budaya literasi secara perlahan.

Kadarina menyebut, sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program literasi di daerah. Oleh karena itu, pihaknya terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai instansi.

“Literasi bukan hanya tanggung jawab satu instansi, tetapi perlu kolaborasi semua pihak agar hasilnya maksimal,” ujarnya.

Ia berharap program ini dapat menjadi model pengembangan literasi berbasis komunitas yang berkelanjutan. Jika berhasil, konsep serupa akan diterapkan di wilayah lain. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang belajar terbuka yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....