Dari Hindu ke Islam Jejak Sejarah Banten Girang
- 10 Feb 2026 12:52 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Situs Banten Girang menyimpan jejak panjang peradaban sejak masa Hindu-Buddha hingga masuknya Islam di wilayah Banten. Kawasan yang berdiri sejak tahun 932 M atau abad ke-9 ini menjadi saksi perubahan fungsi ruang spiritual dan sosial masyarakat dari masa ke masa.
Memasuki abad ke-16, Banten Girang mengalami perubahan besar seiring datangnya Islam. Proses peralihan tersebut berlangsung tanpa konflik bersenjata dan berjalan secara damai. Penyebaran Islam ke kawasan ini dipimpin oleh Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah pada tahun 1521 dengan bantuan dua tokoh lokal, yakni Ki Masjong dan Agus Ju, yang memiliki peran berbeda dalam membuka akses menuju pusat Kerajaan Banten Girang.
Juru Pelihara Situs Banten Girang, Nandar, menjelaskan masuknya Islam ke wilayah ini tidak melalui peperangan karena kondisi kawasan kerajaan sedang kosong. Saat itu, Raja Prabu Pucuk Umun bersama pasukan kerajaan tengah melakukan ritual keagamaan di Gunung Pulosari, yang dianggap sebagai tempat suci pada masa Hindu.
“Ketika raja dan pasukannya berada di Gunung Pulosari, kawasan Banten Girang dalam keadaan kosong. Pada saat itulah rombongan Syarif Hidayatullah masuk ke wilayah ini, sehingga tidak terjadi peperangan,” kata Nandar, Selasa, 10 Februari 2026.
Nandar menjelaskan, Masjong dan Agus Ju merupakan dua tokoh dengan peran strategis dalam peristiwa masuknya Islam ke Banten Girang. Masjong merupakan tokoh dari dalam lingkungan kerajaan yang membuka pintu gerbang ibu kota Kerajaan Banten Girang sehingga pasukan Syarif Hidayatullah dapat masuk ke kawasan inti kerajaan.
Sementara itu, Agusju berperan sebagai penunjuk jalan menuju ibu kota Banten Girang. Menurut Nandar, pada masa itu lokasi pusat kerajaan hanya diketahui oleh kerajaan-kerajaan tertentu yang menjalin kerja sama dagang, sehingga peran Agusju menjadi sangat penting.
“Masjong membuka pintu gerbang dari dalam kerajaan, sedangkan Agusju menunjukkan jalur menuju ibu kota Banten Girang. Tanpa keduanya, rombongan Islam tidak akan mudah mencapai pusat kerajaan,” ujar Nandar.
Nandar menambahkan, masyarakat Islam pada masa awal memanfaatkan lokasi-lokasi yang sunyi dan terlindung di kawasan Banten Girang sebagai tempat berzikir. Oleh karena itu, kawasan ini tetap berfungsi sebagai ruang spiritual, meski dengan ajaran dan praktik keagamaan yang berbeda dari masa sebelumnya.
Secara historis, Banten Girang merupakan pusat kerajaan ibu kota Sunda yang pada masa awalnya menganut agama Hindu. Kawasan ini juga tercatat sebagai kerajaan Hindu pertama di wilayah Banten yang kemudian menerima dan memeluk Islam, sebelum pusat kekuasaan berpindah ke kawasan pesisir dan berkembang menjadi Kesultanan Banten.
“Banten Girang ini adalah pusat kerajaan Sunda pada masanya. Bisa dibilang sebagai anak dari Kerajaan Tarumanegara. Setelah Tarumanegara runtuh, muncul kerajaan baru di sini, dengan agama Hindu sebelum akhirnya menerima Islam,” kata Nandar.
Menurutnya, letak Banten Girang sangat strategis karena dikelilingi aliran sungai yang berfungsi sebagai benteng alami. Kawasan ini memiliki luas sekitar delapan hektare dan dilengkapi berbagai struktur penting, seperti punden berundak, parit buatan, serta ruangan-ruangan batu yang berfungsi sebagai sarana pengawasan dan pembinaan pada masa kerajaan.
“Di sini ada punden berundak yang dulu digunakan sebagai tempat sesembahan sekaligus menara pengawas. Dari atas, seluruh kawasan Banten Girang bisa dipantau karena wilayahnya cukup luas,” ujarnya.
Hingga kini, Situs Banten Girang masih menjadi rujukan penelitian sejarah bagi kalangan akademisi, khususnya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kunjungan masyarakat umum biasanya meningkat pada akhir pekan serta pada momen-momen tertentu seperti peringatan Maulid Nabi dan menjelang bulan Ramadan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....