Manuskrip Babad Banten Sukses Disulap Jadi Drama Musikal Modern
- 21 Jun 2026 14:27 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Pertunjukan drama musikal bertajuk "Di Ujung Pena, Di Ujung Darah: Dari Tinta Perjanjian Menuju Bara Perlawanan" sukses memukau penonton di GOR Cikupa, Kabupaten Pandeglang, Sabtu, 20 Juni 2026. Pementasan ini berhasil menghidupkan kembali sejarah Kesultanan Banten menjadi tontonan modern yang segar dan diminati generasi muda.
Acara yang digagas oleh budayawan Pandeglang, Tirta Nugraha Pratama, dan disutradarai Parwa Rahayu ini sengaja mendobrak pakem lama. Jika biasanya isi manuskrip kuno Babad Banten hanya dipentaskan lewat wayang atau teater konvensional, kali ini pertunjukan dikemas apik lewat perpaduan opera, tari, nyanyian, serta sokongan teknologi visual mapping mutakhir.
"Selama ini manuskrip Babad Banten lebih banyak dikenalkan melalui wayang atau teater konvensional. Kali ini kami mencoba media lain yang lebih kreatif dan inovatif dengan menggabungkan opera, visual mapping, tarian, dan nyanyian," ujar Tirta Nugraha Pratama, usai pertunjukkan yang dihadiri sekitar 800 penonton tersebut.
Secara cerita, drama musikal ini menyoroti periode penting ketika konflik internal di dalam lingkar Kesultanan Banten dimanfaatkan oleh kompeni (VOC) untuk menjajah. Alur cerita menggambarkan bagaimana kerja sama antara Sultan Haji dan VOC menjadi titik balik yang akhirnya bikin rakyat kecil sengsara.
Di balik suksesnya pementasan yang megah ini, tim produksi ternyata tidak asal bikin skenario demi estetika panggung belaka. Mereka melakukan riset mendalam terhadap manuskrip asli Babad Banten beraksara Pegon, bahkan melibatkan sejarawan dan mencocokkannya dengan buku harian resmi milik VOC.
"Kami melibatkan penerjemah karena manuskrip ini menggunakan aksara Pegon. Selain itu ada tim riset yang mengumpulkan dan mencocokkan data dari manuskrip dengan berbagai catatan sejarah pada masa itu," kata Tirta.
Lewat kolaborasi seni kontemporer dan teknologi ini, para pegiat budaya di Pandeglang sukses membuktikan bahwa sejarah kuno tidak harus berakhir jadi artefak berdebu di perpustakaan, melainkan bisa dikemas menjadi sarana edukasi yang keren dan memicu daya kritis anak muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....