Petani Lebak Panen Raya, Kesejahteraan Ekonomi Meningkat
- 01 Feb 2026 15:09 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Kabar gembira datang dari Kabupaten Lebak, di mana para petani di sejumlah kecamatan telah memulai masa panen padi pada Februari 2026. Momentum ini diyakini menjadi angin segar bagi ketahanan pangan lokal sekaligus penggerak roda ekonomi masyarakat pedesaan demi mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, mengonfirmasi potensi panen sepanjang Januari 2026 mencapai 15.115 hektare. " Produktivitas rata-rata gabah basah di seluruh wilayah Lebak saat ini berada di kisaran 5 hingga 6 ton per hektare," ujar Deni di Rangkasbitung, Sabtu 31 Januari 2026.
Ketua Kelompok Tani Blok Sentral Desa Rangkasbitung Timur, Udin, mengungkapkan rasa syukurnya atas hasil jerih payah para petani tahun ini. Di wilayahnya sendiri, total lahan yang memasuki masa panen mencapai 50 hektar, sebuah angka yang cukup signifikan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Kami merasa senang karena pada panen kali ini total seluas 50 hektar. Musim panen dilakukan secara serentak dan dipastikan ketersediaan pangan relatif melimpah juga peningkatan ekonomi," ujar Udin.
Hasil panen berupa gabah basah tersebut langsung diserap oleh pasar dengan harga yang stabil. Saat ini, gabah basah dihargai Rp6.500 per kilogram, sesuai dengan harga patokan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjaga keadilan bagi para produsen.
Udin menjelaskan mayoritas pembeli yang datang ke lokasi panen adalah para pemilik pabrik penggilingan padi. Mereka datang untuk mengolah gabah tersebut menjadi beras siap konsumsi yang nantinya akan didistribusikan ke berbagai daerah.
Secara personal, Udin yang memiliki lahan seluas satu hektare berhasil mencapai produktivitas sebanyak 6 ton gabah basah. Dari total tersebut, ia menjual 5 ton dengan total pendapatan mencapai Rp32,5 juta.
Sementara sisanya disimpan sebagai stok pangan mandiri. "Hasilnya 6 ton, yang dijual 5 ton dengan harga Rp6.500/kg sehingga menghasilkan Rp32,5 juta. Sedangkan sisanya 1 ton untuk cadangan pangan keluarga," ucapnya merinci pembagian hasil panennya.
Kondisi serupa dirasakan oleh Misbah, petani lainnya yang menilai musim panen kali ini sangat menguntungkan. Hal ini dikarenakan minimnya gangguan hama dan penyakit yang biasanya menjadi momok menakutkan bagi para petani padi di daerah tersebut.
Selain hasil yang bagus, biaya produksi kali ini juga jauh lebih efisien berkat penurunan harga pupuk bersubsidi. Misbah mengaku hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp7,5 juta per hektare, turun signifikan dari biaya sebelumnya yang mencapai Rp10 juta.
Sama seperti rekan-rekannya, Misbah juga mengantongi Rp32,5 juta dari penjualan 5 ton gabah basah miliknya. "Kami menyisihkan 1 ton untuk cadangan pangan keluarga tetap dijalankan agar kebutuhan dapur terjamin hingga masa panen berikutnya tiba," ujar Misbah.
Di sisi lain, Ketua Gapoktan Sukabungah Desa Tambakbaya, Ruhiana, memberikan gambaran ekonomi yang lebih luas. Di wilayah Kecamatan Cibadak, perputaran uang dari sektor pertanian ini diprediksi menembus angka miliaran rupiah dalam satu musim panen.
"Pendapatan usaha pertanian pangan di wilayah kami bisa menghasilkan perputaran uang Rp3,7 miliar per musim panen dari lahan 150 hektare dengan 200 anggota," kata Ruhiana .
Ruhiana menambahkan mayoritas petani menggunakan benih varietas Inpari 32 dengan masa tanam hingga panen berkisar antara 90 sampai 100 hari. Dengan produktivitas 5 ton per hektare, total gabah yang dihasilkan dari 150 hektare lahan mencapai 750 ton.
Jika dikonversikan menjadi beras, total produksi mencapai 370 ton yang apabila dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram, akan menghasilkan pendapatan bruto Rp3,7 miliar. Nilai ini memberikan rata-rata penghasilan Rp25 juta per hektare bagi para petani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....