Balawista Siapkan Sistem Siaga Wisata Banten

  • 23 Sep 2025 22:51 WIB
  •  Banten

KBRN, Pandeglang: Ancaman bencana di kawasan pesisir pantai Banten tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga menjadi risiko besar bagi sektor pariwisata. Mengingat pantai merupakan destinasi favorit wisatawan, keberadaan sistem peringatan dini dan tenaga profesional sangat diperlukan.

Ketua Balawista Nasional, Ade Ervin, menyampaikan organisasinya kini telah berkembang menjadi lembaga profesional dengan standar kompetensi nasional. “Sejak tahun 2013, Balawista sudah memiliki standar kerja yang diakui pemerintah. Kami hadir untuk memberikan perlindungan maksimal, khususnya di kawasan wisata pantai,” ujar Ade Ervin dalam dialog Tanggap Bencana RRI Banten, Selasa (23/9/2025).

Baca juga: Waspada Bencana, Gubernur: Banten Siaga!

Salah satu program andalan Balawista adalah Siaga Wisata, yang pertama kali diluncurkan di Banten sejak 2016. Program ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan di kawasan wisata, mengingat wisatawan kerap tidak mengenal karakter wilayah yang mereka kunjungi. Melalui koordinasi dengan pengelola wisata, hotel, dan restoran, Balawista memastikan informasi peringatan dini bisa segera diteruskan kepada pengunjung.

“Industri pariwisata itu sangat rentan. Wisatawan datang dari luar daerah, mereka tidak tahu ke mana harus berlari saat terjadi darurat. Karena itu, Balawista hadir memberikan panduan, agar sektor wisata tetap aman dan masyarakat terlindungi,” ujar Ade.

Balawista juga dipercaya merawat alat sensor canggih dari Uni Eropa yang dapat mendeteksi kenaikan air laut secara tiba-tiba. Informasi dari sensor ini diteruskan melalui jaringan komunikasi hingga ke pengelola wisata yang bertanggung jawab memberi peringatan langsung kepada wisatawan.

“Sensor ini memberi notifikasi jika air laut naik secara abnormal. Informasi itu kami teruskan ke pengelola wisata, lalu mereka wajib menyampaikan langsung ke pengunjung di lokasi,” ucapnya.

Baca juga: Inspektorat Lebak Validasi Data PPPK Paruh Waktu

Data tragedi tsunami Selat Sunda 2018 masih menjadi pelajaran penting. Kala itu, ratusan wisatawan meninggal dunia, sementara korban dari masyarakat lokal relatif sedikit karena mereka sudah lebih terbiasa menghadapi risiko alam. Fakta ini menegaskan perlunya program khusus untuk wisatawan agar mereka tidak panik dan tahu langkah penyelamatan yang benar.

Ade berpesan, masyarakat maupun wisatawan harus selalu patuh pada instruksi petugas keselamatan di pantai. “Bencana tidak bisa diprediksi. Namun dengan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, kita bisa mengurangi dampak buruknya,” ucapnya. (Nurlela)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....