Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, Pengamat: Erupsinya Normal dan Aman
- 15 Jul 2026 13:43 WIB
- Banten
Poin Utama
- Status Gunung Anak Krakatau meningkat ke Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026 dengan perluasan zona bahaya dari dua menjadi tiga kilometer.
- Pengamat Gunung Api menyebut erupsi adalah fenomena normal bagi gunung api yang masih muda dan dalam fase pertumbuhan.
- Berdasarkan analisis Badan Geologi, potensi terjadinya tsunami besar seperti tahun 2018 sangat kecil.
- Kawasan wisata pesisir Selat Sunda seperti Anyer, Carita, dan Labuan tetap aman dikunjungi.
RRI.CO.ID, Serang - Badan Geologi meminta masyarakat tidak panik menyikapi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus Level III (Siaga). Erupsi yang belakangan terjadi ditegaskan sebagai fenomena yang sepenuhnya normal bagi gunung api yang usianya masih muda.
Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman menjelaskan, sebagai gunung api yang masih dalam fase pertumbuhan, aktivitas vulkanik berupa erupsi berkala adalah hal yang wajar. Selama masyarakat, nelayan, dan wisatawan mematuhi zona aman radius tiga kilometer dari kawah aktif, aktivitas gunung ini dinilai tidak membahayakan.
"Erupsi yang terjadi saat ini merupakan karakteristik normal bagi Gunung Api Anak Krakatau yang masih tergolong gunung api muda. Material erupsinya pun masih jatuh di sekitar tubuh gunung saja," kata Dika saat dialog di Pro2 RRI Banten, Rabu, 15 Juli 2026.
Dika juga meluruskan kekhawatiran publik soal potensi tsunami besar seperti yang pernah terjadi pada tahun 2018 silam. Berdasarkan hasil pemantauan intensif dan analisis Badan Geologi, peluang terjadinya tsunami saat ini sangat kecil.
Erupsi terakhir yang memuntahkan kolom abu setinggi 400 meter dinilai masih terlokalisir di area gunung. Karena itu, kawasan wisata pesisir Selat Sunda seperti Anyer, Carita, hingga Labuan dipastikan tetap aman dikunjungi.
Meski begitu, potensi erupsi kecil memang masih tetap ada. Hal ini terlihat dari catatan kegempaan yang didominasi tremor menerus, yang menandakan pasokan magma masih berada dekat di permukaan. Status Siaga sendiri sudah ditetapkan sejak 2 Juli 2026 lalu, dibarengi dengan perluasan zona bahaya dari dua menjadi tiga kilometer.
Dika pun mewanti-wanti masyarakat agar tidak mudah menelan mentah-mentah kabar burung yang beredar liar di media sosial. Bagi warga yang ingin memantau kondisi terkini, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau bisa dilihat langsung via aplikasi atau situs resmi MAGMA Indonesia yang diperbarui setiap enam jam.
"Mohon selalu ikuti informasi terkini yang resmi. Jangan percaya berita dari sumber yang tidak jelas di media sosial, karena itu yang sering bikin panik," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....