Pengrajin Rampak Bedug Hadapi Kendala Bahan Baku
- 24 Agt 2025 15:48 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Tradisi kesenian rampak bedug di Kabupaten Pandeglang menghadapi berbagai tantangan, khususnya soal ketersediaan bahan baku. Pasalnya, bahan baku utama bedug yang menggunakan pohon kelapa tua, kini keberadaannya semakin langka.
Salah seorang pengrajin sekaligus pelatih rampak bedug dari Sanggar Kembang Tanjung, di Kecamatan Karangtanjung, Pandeglang, Banten, Saprudin mengatakan, bahan baku yang layak, kerap diperoleh dari daerah seperti Cibaliung hingga Panimbang. Namun, jarak yang jauh serta minimnya persediaan membuat proses produksi sering terhambat.
“Untuk membuat bedug diperlukan pohon kelapa yang sudah tua dan memiliki bodi bagus. Tidak semua batang kelapa bisa digunakan. Saat ini pohon dengan kriteria tersebut semakin sulit didapat,” ujar Saprudin, Minggu (24/08/2025).
Baca juga: Penuhi Permintaan Pasar, Warga Juhut Dilatih Buat Stik Bedug
Menurutnya dalam proses penyelesaian satu set rampak bedug bisa memakan waktu hingga sebulan, karena batang kelapa harus dikeringkan terlebih dahulu. Dalam satu bulan, sanggar yang ia kelola bersama sekitar 20an pemuda kampung bisa memproduksi hingga lima set rampak bedug.
Bersama sanggarnya Saprudin telah mencoba untuk mencari batang pohon hingga ke Lampung, tapi menurutnya kualitas dan postur kelapa yang kecil belum bisa digunakan untuk membuat rampak bedug. Selain itu pohon-pohon kelapa yang tumbuh dekat pantai menurutnya tidak cocok untuk dijadikan alternatif karena pohon kelapa yang dekat pantai akan mudah rapuh dan tidak akan kuat lama.
“Sekarang sudah jarang ada batang kelapa yang cocok. Kalau pun ada, letaknya jauh sekali,” katanya.
Baca juga: Keseruan Tradisi Gebrag Ngadu Bedug di Pandeglang
Saprudin menyebut, dalam satu bulan sanggarnya bisa memproduksi bedug sebanyak 4 sampai 5 set. Namun dia mengakui, volume permintaan pasar beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Hal ini karena banyak sekolah maupun sanggar yang sudah memiliki rampak bedug sendiri.
Dia menilai antusiasme masyarakat terhadap kesenian rampak bedug masih tergolong tinggi, terutama saat acara besar seperti hajatan atau pertunjukan di sekolah. Oleh karenanya Saprudin berharap, kesenian rampak bedug terus mendapatkan perhatian, terutama dalam hal ketersediaan bahan baku agar kesenian rampak bedug ini tetap lestari.
“Harapan saya, rampak bedug ini tetap eksis dan jangan sampai punah," katanya. (Ridwan Maulana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....