Masyarakat Diingatkan Tak Anggap Sepele Alzheimer

  • 21 Sep 2026 10:41 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Penurunan daya ingat pada lansia yang berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari bukan hal wajar dan perlu mendapat perhatian medis karena dapat terkait dengan demensia atau Alzheimer.
  • Alzheimer merupakan penyakit saraf degeneratif yang berlangsung bertahap dan progresif akibat kerusakan sel-sel saraf otak, yang dapat memengaruhi ingatan, kemampuan berpikir, berbicara, dan perilaku.
  • Alzheimer berbeda dengan lupa biasa, dan Puskesmas Kota Serang mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap gejala gangguan ingatan pada lansia sebagai bagian normal dari penuaan.

RRI.CO.ID, Serang – Puskesmas Kota Serang mengingatkan masyarakat tidak menganggap penurunan daya ingat pada lanjut usia sebagai hal yang selalu wajar. Gangguan ingatan yang terjadi berulang dan semakin mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan demensia maupun Alzheimer.

Kepala Tata Usaha UPTD Puskesmas Kota Serang, Ima Hikmah Susanti menjelaskan, Alzheimer berbeda dengan lupa biasa. Alzheimer merupakan penyakit saraf degeneratif yang berlangsung bertahap dan progresif akibat kerusakan sel-sel saraf otak. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ingatan, kemampuan berpikir, berbicara hingga perilaku.

Menurut Ima, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan daya ingat yang berlangsung cepat dan berulang. Penderita dapat menanyakan hal yang sama dalam waktu singkat atau mengalami kesulitan mengingat informasi yang baru saja diterima.

"Jadi lupanya itu terus-menerus, waktunya pendek. Apa yang sudah misalkan ditanyakan ke salah satu anggota keluarganya, itu akan ditanyakan kembali dalam waktu yang sangat singkat," kata Ima dalam program Banten Menyapa bersama RRI Pro 1 Banten, Senin, 21 September 2026.

Selain gangguan ingatan, tanda lain yang perlu diperhatikan adalah disorientasi terhadap waktu dan tempat. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang tidak mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas tertentu atau bahkan keluar rumah tanpa mengetahui tujuan dan kesulitan menemukan jalan pulang.

Ima mengatakan Alzheimer juga dapat disertai perubahan perilaku, termasuk munculnya prasangka terhadap anggota keluarga ketika penderita merasa kehilangan barang. Karena itu, keluarga perlu memperhatikan perubahan yang terjadi dan tidak membiarkan gejala tersebut tanpa pendampingan.

"Jadi memerlukan perhatian medis segera. Jadi tidak adanya pembiaran dari salah satu anggota keluarga yang memang memiliki anggota keluarga yang punya demensia atau lebih ke Alzheimer-nya," ujarnya.

Dalam penanganannya, Puskesmas berperan melakukan identifikasi awal terhadap gangguan ingatan. Jika ditemukan indikasi yang mengarah pada Alzheimer, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dari dokter spesialis penyakit saraf. Masyarakat juga dianjurkan menerapkan pola hidup sehat, menjaga aktivitas otak, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga kualitas tidur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....