Hari Lupus Sedunia, Penyakit Seribu Wajah yang Kerap Lambat Disadari

  • 09 Mei 2026 09:56 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Hari Lupus Sedunia
  • World Lupus Day
  • Autoimun
  • Lupus

RRI.CO.ID, Banten – Tanggal 10 Mei diperingati Hari Lupus Sedunia. Pada momentum ini, masyarakat diingatkan untuk lebih waspada terhadap penyakit lupus yang kerap terlambat disadari karena gejalanya menyerupai keluhan kesehatan biasa atau biasa disebut “penyakit seribu wajah”.

Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 130/PUU-XXIII/2025 yang diresmikan pada 2 Maret 2026, lupus termasuk dalam kategori invisible disability atau disabilitas tak tertampak.

Mengutip perbincangan dokter spesialis rhematologi di RSCM Jakarta, Anna Ariane, lupus merupakan salah satu penyakit autoimun sistemik yang dapat menyerang berbagai organ tubuh akibat sistem imun yang keliru mengenali jaringan tubuh sendiri sebagai ancaman.

“Lupus disebut penyakit seribu wajah, karena gejalanya bervariasi dan berbeda setiap penyintas,” ujar Anne dalam siaran Healthy Talks dari Kementerian Kesehatan RI yang dikutip RRI, Sabtu, 9 Mei 2026.

Ia menjelaskan, gejala awal lupus sering kali dianggap sebagai kondisi biasa, seperti nyeri sendi, mudah lelah, ruam pada kulit, demam berkepanjangan hingga sariawan yang tak kunjung sembuh. Pada beberapa kasus, lupus juga menyerang jaringan darah, ginjal, paru hingga sistem syaraf pusat.

Menurutnya, lupus paling banyak menyerang perempuan usia produktif antara usia 15 hingga 40 tahun. Karena itu, Kementerian Kesehatan RI mengampanyekan SALURI (Periksa Lupus Sendiri) sebagai upaya deteksi dini penyakit tersebut.

Anne mengatakan, lupus memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun dengan pengobatan yang tepat sampai mencapai target remisi atau saat penyakit dalam kondisi terkendali.

“Kalau ditemukan dan diobati sejak dini, penyintas lupus tetap bisa hidup produktif, bekerja, bahkan menjalani aktivitas seperti biasa,” katanya.

Sorang penyintas lupus asal Kota Serang, Abhira mengaku tidak pernah menyangka dirinya mengalami penyakit ini. Sebelum sakit, ia dikenal aktif berolahraga dan jarang mengalami kondisi kesehatan yang serius.

Namun beberapa tahun lalu, kondisi kesehatannya mulai berubah setelah mengalami Cereberal Venous Sinus Trombosis (CVST). Meski telah menjalani pengobatan dan kontrol rutin, keluhannya beberapa kali kambuh hingga harus menjalani perawatan berulang.

Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan secara menyeluruh, dokter menemukan adanya penyakit autoimun Sjogren Sjogren Syndrome dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang diduga menjadi faktor utama di balik kondisinya selama ini.

“Dulu saya merasa tubuh saya kuat dan baik-baik saja. Sekarang berbeda, tapi pelan-pelan saya belajar menerima,” ujarnya.

Ia mengaku semangatnya bangkit kembali setelah bertemu penyintas lain ketika menjalani kontrol rutin. Menurutnya, dukungan sesama pasien membuat dirinya lebih kuat menjalani pengobatan jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....