Cegah Kasus DBD, Dinkes Lebak Canangkan Jumantik

  • 05 Jun 2026 13:45 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, mencanangkan Gerakan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) sebagai upaya memperkuat pencegahan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD). Program tersebut digulirkan dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, jumlah kasus DBD sepanjang Januari hingga Mei 2026 tercatat mencapai 418 kasus. Meski demikian, hingga saat ini tidak ditemukan kasus kematian akibat penyakit tersebut.

Sekretaris Dinkes Kabupaten Lebak, Endang Komarudin mengatakan, pihaknya berkomitmen memutus mata rantai penularan DBD melalui penguatan peran masyarakat. Menurut Endang, pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kasus DBD yang masih muncul setiap tahun.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca dengan curah hujan tinggi menjadi faktor yang mendukung perkembangan populasi nyamuk Aedes aegypti. “Kami berkomitmen memutus mata rantai penularan DBD melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk secara berkelanjutan,” kata Endang, di Rangkasbitung,Jum'at,5 Juni 2026.

Ia menuturkan, keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Karena itu, Gerakan Jumantik diharapkan mampu meningkatkan kesadaran warga untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat diajak melakukan gotong royong membersihkan lingkungan secara rutin. Kegiatan tersebut meliputi pembersihan saluran air, pengangkutan sampah, serta penghilangan berbagai tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Dinkes mendorong setiap keluarga memiliki kader Jumantik yang bertugas memantau keberadaan jentik nyamuk di rumah masing-masing. Kader Jumantik diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam mendeteksi dan menghilangkan sumber perkembangbiakan nyamuk sejak dini.

Endang menjelaskan bahwa nyamuk Aedes aegypti umumnya berkembang biak di tempat yang gelap dan lembap. Beberapa lokasi yang sering menjadi tempat bertelur nyamuk antara lain pot bunga, bak mandi, ember, tong penampungan air, dan saluran air yang tidak terawat. Barang-barang bekas yang dapat menampung genangan air juga menjadi lokasi favorit bagi nyamuk untuk berkembang biak.

“Masyarakat harus rutin memeriksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk agar jentik dapat segera diberantas sebelum berkembang menjadi nyamuk dewasa,” ujarnya.

Selain fokus pada lingkungan permukiman, Dinkes Lebak juga meningkatkan edukasi pencegahan DBD di lingkungan sekolah. Langkah tersebut dilakukan karena sekolah memiliki potensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk apabila kebersihan lingkungan tidak dijaga dengan baik.

Dinkes juga meminta seluruh puskesmas aktif memberikan penyuluhan terkait upaya pencegahan DBD. Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.

Gerakan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Selain 3M Plus, masyarakat juga dianjurkan memanfaatkan larvasida atau Abate untuk mengendalikan pertumbuhan jentik nyamuk pada tempat-tempat tertentu. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menerapkan gerakan 3M Plus secara konsisten karena langkah sederhana ini terbukti efektif dalam mencegah penyebaran DBD,” ucap Endang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....