Cuaca Panas Ekstrem Picu Risiko Penyakit Meningkat

  • 01 Apr 2026 20:09 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Cuaca Panas Ekstrem Picu Risiko Penyakit Meningkat
  • Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala sebelah atau migrain, panas dalam, demam tinggi, dehidrasi, hingga heat stroke.
  • Pola makan sehat dinilai mampu meningkatkan daya tahan tubuh selama cuaca panas.

RRI.CO.ID, Lebak - Cuaca panas ekstrem tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia dan diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino dan IOD positif yang menyebabkan peningkatan suhu tidak wajar serta berkurangnya curah hujan.

Dampak dari cuaca panas tersebut mulai dirasakan masyarakat, mulai dari terganggunya aktivitas harian hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan. Suhu yang tinggi dalam waktu lama menjadi ancaman serius jika tidak diantisipasi dengan baik.

Plt. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Firman Rahmatullah, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi ini. Ia menyebutkan, cuaca panas ekstrem dapat memicu berbagai penyakit.

“Cuaca panas ekstrem bukan hanya membuat tidak nyaman, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius jika tidak ditangani dengan tepat,” ujar Firman di Rangkasbitung, Rabu, 1 April 2026.

Menurutnya, beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala sebelah atau migrain, panas dalam, demam tinggi, dehidrasi, hingga heat stroke. Selain itu, iritasi kulit juga kerap terjadi akibat paparan sinar matahari berlebih. Kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak ini meliputi lansia, anak-anak di bawah lima tahun, serta individu dengan penyakit kronis.

Orang yang memiliki riwayat alergi debu dan panas juga termasuk dalam kategori berisiko tinggi. Firman menjelaskan bahwa risiko akan semakin meningkat apabila seseorang terpapar suhu tinggi dalam waktu lama tanpa asupan cairan yang cukup.

Kondisi tersebut dapat mempercepat terjadinya dehidrasi hingga gangguan serius lainnya. “Paparan panas yang berkepanjangan tanpa hidrasi cukup bisa berujung pada heat stroke yang berbahaya dan membutuhkan penanganan medis segera,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari saat suhu mencapai puncaknya. Jika terpaksa beraktivitas, disarankan menggunakan pelindung seperti topi atau payung.

Selain itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi langkah penting.

Masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi air putih minimal delapan gelas per hari guna menggantikan cairan tubuh yang hilang. Konsumsi buah dan sayur yang mengandung banyak air seperti semangka, jeruk, mentimun, dan tomat juga dapat membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.

Pola makan sehat dinilai mampu meningkatkan daya tahan tubuh selama cuaca panas. Perlindungan kulit juga tidak boleh diabaikan. Penggunaan tabir surya minimal SPF 30 dan pelembap dapat membantu mencegah kerusakan kulit akibat paparan sinar ultraviolet.

"Masyarakat diimbau untuk menghindari makanan berminyak, pedas, serta minuman beralkohol yang dapat memperparah kondisi tubuh saat cuaca panas," ucap dia berpesan.

Kebiasaan tersebut berpotensi memicu dehidrasi dan gangguan pencernaan. Firman menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem ini. “Jika mengalami gejala seperti pusing, lemas, atau demam tinggi, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan cepat dan tepat,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....