Cegah Disrupsi Informasi, Pemuda Perlu Literasi Digital yang Kuat

  • 01 Okt 2026 13:09 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang – Perkembangan media sosial dan derasnya arus informasi menjadi tantangan bagi anak muda dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila di era digital. Kemudahan memperoleh dan menyebarkan informasi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis serta memeriksa kebenaran informasi.

Presiden Mahasiswa Untirta, Muhamad Ridam menilai, anak muda perlu memiliki bekal literasi informasi yang kuat. Sikap tersebut diperlukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh isu yang beredar di media sosial.

“Kalau ngomongin media sosial hari ini ya di era postmodernisme lah ya kita sebutnya, jadikan banyaknya disrupsi informasi yang terjadilah di sekitar kita gitu, banyaknya isu sosial yang terus selalu digulir di media,” kata Ridam dalam program Spada bersama RRI Pro 2 Banten, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut Ridam, anak muda perlu melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang dan tidak hanya mengandalkan satu sumber informasi. Ia menilai sumber yang digunakan perlu diperiksa dari sisi kredibilitas, penulis, serta asal informasi sebelum dipercaya maupun disebarkan.

“Jangan hanya ke satu sumber saja melainkan keramaian sumber, karena saya sih anak sejarah ya, karena selalu belajar lah ya, ngomongin sumber-sumber yang kredibel, sumber-sumber yang primer ini harus terus diverifikasi mengenai kredibilitasnya,” ujarnya.

Ridam juga mendorong anak muda memperbanyak membaca buku, berita, dan berbagai sumber informasi sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi. Menurutnya, kemampuan membaca dan memverifikasi informasi dapat membantu generasi muda memahami persoalan secara lebih utuh.

“Ya kita harus terus banyak baca buku lah, banyak baca buku, banyak banyak baca berita, terus selalu kritis lah terhadap apa yang hari ini beredar di media massa,” katanya.

Sementara Presiden Mahasiswa UIN Banten, Muhammad Syahid menambahkan, penggunaan media sosial harus diiringi dengan tanggung jawab. Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat di ruang digital tidak berarti pengguna dapat mengabaikan dampak dari informasi maupun komentar yang disampaikan.

“Media sosial ini adalah sebuah kebebasan yang bebas, tapi di samping kebebasan ada yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Syahid mengatakan, anak muda perlu mencari kebenaran dan referensi ketika menemukan informasi di media sosial. Sikap tersebut penting karena banyaknya akun maupun konten dapat membentuk opini publik tanpa memberikan informasi yang utuh.

“Ketika teman-teman semua membaca sesuatu akan disertakan atau dicari kebenaran ataupun referensinya,” katanya.

Ridam menambahkan, kepekaan anak muda terhadap isu kebangsaan perlu dibangun melalui pemahaman terhadap substansi informasi. Menurutnya, generasi muda tidak seharusnya hanya mengikuti judul atau tagline yang beredar, tetapi perlu membaca dan memahami isi persoalan secara menyeluruh.

Ia menilai sikap kritis terhadap informasi merupakan bagian dari pengamalan nilai Pancasila di era digital. Dengan kemampuan tersebut, anak muda diharapkan dapat tetap menjaga sikap toleran dan tidak mudah terpecah akibat perbedaan informasi maupun pandangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....