Rekor MURI Buktikan Literasi Lawan Korupsi

  • 18 Jul 2026 22:58 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Rekor MURI penulisan cerpen antikorupsi terbanyak tahun 2026 membuktikan literasi dapat berkontribusi dalam membangun budaya antikorupsi di Indonesia.
  • Keterlibatan ratusan penulis menunjukkan bahwa edukasi mengenai integritas dapat dilakukan secara efektif melalui karya sastra dan narasi kreatif.
  • Penulis terpilih Kartika Rahmi Wijayanti menekankan, pencapaian ini bukan hanya mengejar rekor, tetapi menjadi simbol kolaborasi dalam menyuarakan pentingnya kejujuran kepada masyarakat.

RRI.CO.ID, Serang - Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk penulisan cerpen antikorupsi terbanyak tahun 2026 menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat berkontribusi dalam membangun budaya antikorupsi. Keterlibatan ratusan penulis menunjukkan bahwa edukasi mengenai integritas dapat dilakukan melalui karya sastra.

Penulis yang terpilih dalam Rekor MURI Penulisan Cerpen Antikorupsi Terbanyak Tahun 2026, Kartika Rahmi Wijayanti mengatakan, pencapaian tersebut bukan semata-mata mengejar rekor, melainkan menjadi simbol kolaborasi penulis dalam menyuarakan pentingnya kejujuran kepada masyarakat.

"Rekor ini bukan hanya soal jumlah cerpen yang berhasil ditulis, tetapi menjadi bukti bahwa literasi bisa menjadi gerakan bersama untuk menyuarakan nilai antikorupsi," katanya dalam program Sore Ceria bersama RRI Pro 2 Banten, Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurut Kartika, karya sastra memiliki ruang yang luas untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Cerita yang ditulis mampu menghadirkan gambaran mengenai dampak korupsi sekaligus mengajak pembaca memahami pentingnya integritas dalam kehidupan.

Ia menilai keterlibatan banyak penulis dalam proyek tersebut menunjukkan semakin besarnya kepedulian insan literasi terhadap persoalan korupsi di Indonesia. Semangat tersebut diharapkan dapat menginspirasi komunitas literasi lainnya untuk menghasilkan karya yang membawa dampak positif bagi masyarakat.

"Ketika banyak penulis bergerak bersama, pesan yang disampaikan juga akan semakin luas jangkauannya. Literasi bisa menjadi bagian dari gerakan sosial," ujarnya.

Kartika mengatakan penghargaan MURI menjadi motivasi untuk terus berkarya dan menghasilkan tulisan yang memberikan manfaat. Menurutnya, karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi media pendidikan karakter.

Ia berharap semakin banyak ruang yang diberikan kepada para penulis untuk mengangkat tema-tema sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, budaya membaca sekaligus kesadaran terhadap nilai integritas dapat tumbuh secara bersamaan.

"Semoga pencapaian ini menjadi penyemangat bagi para penulis lain untuk terus berkarya dan menghadirkan tulisan yang membawa manfaat bagi masyarakat," ucapnya.

Kartika menambahkan gerakan literasi akan memiliki dampak yang lebih besar apabila didukung oleh berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan, komunitas, dan media massa. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya membangun budaya antikorupsi sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....