Cerpen Jadi Media Tanamkan Nilai Antikorupsi

  • 18 Jul 2026 22:30 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Cerita pendek atau cerpen dinilai menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi kepada masyarakat. Penyampaian pesan melalui karya sastra dianggap lebih mudah diterima karena dikemas dalam alur cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penulis yang terpilih dalam Rekor MURI Penulisan Cerpen Antikorupsi Terbanyak Tahun 2026, Kartika Rahmi Wijayanti mengatakan, pendekatan sastra mampu menghadirkan pendidikan karakter tanpa memberikan kesan menggurui. Menurutnya, pembaca akan lebih mudah memahami makna kejujuran, tanggung jawab, dan integritas melalui kisah yang menyentuh emosi.

"Melalui cerpen, saya ingin mengajak pembaca memahami bahwa korupsi tidak selalu dimulai dari kasus besar, tetapi juga dari kebiasaan kecil yang mengabaikan kejujuran," katanya dalam program Sore Ceria bersama RRI Pro 2 Banten, Sabtu, 18 Juli 2026.

Kartika menjelaskan cerpen memiliki kekuatan membangun empati pembaca terhadap tokoh yang diceritakan. Ketika pembaca ikut merasakan konflik yang dialami tokoh, nilai moral yang disampaikan akan lebih mudah diingat dibandingkan sekadar membaca teori.

Menurutnya, sastra dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang menjangkau berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum. Melalui alur cerita yang sederhana, pembaca diajak memahami dampak buruk korupsi terhadap kehidupan keluarga, lingkungan, hingga masa depan bangsa.

"Pesan antikorupsi akan lebih membekas ketika pembaca ikut merasakan perjalanan tokohnya. Mereka bukan hanya membaca, tetapi juga ikut belajar dari cerita tersebut," ujarnya.

Kartika mengatakan, penulisan cerpen antikorupsi juga menjadi bentuk kontribusi nyata para penulis dalam mendukung upaya pemberantasan korupsi. Menurutnya, membangun budaya antikorupsi tidak hanya menjadi tugas aparat penegak hukum, tetapi juga seluruh elemen masyarakat melalui bidang yang ditekuni masing-masing.

Ia menilai, literasi memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu, semakin banyak karya sastra yang mengangkat tema integritas, semakin besar pula peluang tumbuhnya kesadaran publik terhadap pentingnya perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.

"Harapan saya, pembaca tidak berhenti menikmati ceritanya saja, tetapi juga menerapkan nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari karena perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri," ucapnya.

Kartika berharap semakin banyak penulis yang menghadirkan karya bertema pendidikan karakter sehingga sastra dapat terus menjadi media pembelajaran yang menarik. Sekaligus memperkuat budaya antikorupsi di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....