Mang Yana: 25 Tahun Setia Sama Sawah, Mampu Kuliahkan 4 Anak

  • 13 Agt 2026 08:57 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Mang Yana memilih menjadi petani sawah padahal teman seangkatannya di SMA memilih bekerja di pabrik atau kantoran pada saat itu.
  • Keputusan Mang Yana menjadi petani 25 tahun yang lalu terbukti tepat dan tidak menyesal dengan pilihan hidupnya.
  • Pria berusia 54 tahun ini konsisten menggantungkan hidupnya pada profesi bertani dengan memegang cangkul dan bekerja di lumpur sawah.

RRI.CO.ID, Lebak - Ketika kawan-kawan seangkatannya di SMA sibuk memburu lowongan kerja pabrik atau berdesakan melamar kerja kantoran, Ruhiyana justru mengambil arah angin yang berbeda. Pria yang kini berusia 54 tahun tersebut malah mantap melangkah ke lumpur sawah, memegang cangkul, dan menggantungkan nasibnya pada tanah.

Seperempat abad atau 25 tahun berlalu, keputusan pria yang akrab disapa Mang Yana ini sama sekali tak salah jalan.

Kecintaannya pada dunia bercocok tanam yang terpatri sejak bangku SMP terbukti mampu menghidupi keluarga, membangun rumah yang nyaman, hingga mengantarkan empat buah hatinya berkuliah di perguruan tinggi.

"Dari SMP saya memang sudah suka pertanian. Pas lulus SMA, saya pilih jadi petani karena ogah terikat jam kerja kantoran atau aturan pabrik," ujar pria yang akrab disapa Mang Yana di sela aktivitasnya, Rabu, 12 Agustus 2026.

"Banyak orang pikir bertani itu pekerjaan kelas dua. Padahal kalau ditekuni sungguh-sungguh, hasilnya bisa jauh lebih besar dari gaji buruh pabrik atau pegawai kantoran. Yang penting kita mau kerja keras dan pintar mengelolanya," ucapnya mantap.

Bagi warga Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak ini, menjadi petani memberikan kemewahan yang tak dimiliki para pekerja kantoran: kebebasan waktu dan tak ada istilah purnatugas.

"Jadi petani itu enak, kita yang atur waktu sendiri dan tidak ada istilah pensiun. Selama badan masih kuat dan napas masih ada, kita tetap bisa kerja dan menghasilkan uang," tutur Mang Yana.

Keberhasilannya mengolah tanah tak cuma berbuah materi. Dua dari empat anaknya kini terinspirasi dan mantap mengambil jurusan kuliah di bidang pertanian.

"Alhamdulillah, dua anak saya ikut jejak ayahnya. Mereka ambil jurusan pertanian di kampus. Bangga rasanya, ada yang mau meneruskan perjuangan di sawah," ucapnya tersenyum.

Berkat ketekunan dan pengalamannya, Mang Yana kini dipercaya memimpin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukabungah. Tanggung jawabnya tak lagi sebatas isi piring di rumahnya sendiri, tapi juga memikirkan nasib puluhan petani lokal yang mengandalkan komoditas padi dan sayur-mayur.

"Tanggung jawab saya sebagai ketua Gapoktan itu bagaimana caranya bikin anggota ikut sejahtera. Kita garap padi dan sayur-mayur bareng-bareng," kata dia.

Di tengah makin langkanya minat anak muda untuk terjun ke sawah, Mang Yana menyelipkan pesan menohok bagi generasi muda agar tak gengsi memegang tanah.

"Jangan malu jadi petani. Saya berharap anak-anak muda zaman sekarang mau mencintai dunia pertanian dan berani turun ke sawah. Negeri ini butuh petani supaya kita tidak kekurangan pangan," kata Mang Yana sembari menatap hamparan sawah hijau di hadapannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....