Distan Lebak Bantu Pompanisasi Bagi Petani

  • 09 Agt 2026 09:29 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Untuk membantu petani memperoleh pasokan air pada musim kemarau, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak melakukan upaya pompanisasi. Program tersebut diharapkan dapat membantu mengairi lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan pompanisasi dilakukan sebagai upaya membantu petani memaksimalkan hasil pertanian di tengah kondisi kemarau. Hingga saat ini, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak telah menyiapkan sebanyak 201 unit pompa untuk membantu petani. Pengelolaan pompa tersebut diserahkan kepada kelompok tani.

Dengan adanya pompa tersebut, petani diharapkan dapat memperoleh akses air yang lebih mudah untuk mengairi sawah maupun lahan pertanian mereka. Dinas Pertanian Kabupaten Lebak juga mengusulkan penambahan mesin pompa air kepada Kementerian Pertanian.

Penambahan tersebut diperlukan untuk memperluas bantuan kepada petani yang lahannya terdampak kekeringan. Program pompanisasi diharapkan mampu mengurangi dampak kemarau terhadap sektor pertanian. Bantuan tersebut juga menjadi salah satu langkah pemerintah untuk mencegah petani mengalami gagal panen.

"Mudah-mudahan lahan yang memang potensial dan memungkinkan untuk mendapatkan pengairan bisa kita ajukan, sehingga dapat membantu petani meningkatkan produktivitasnya," ujar Rahmat, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Petani berharap bantuan pompanisasi dapat segera dimanfaatkan secara optimal. Mereka juga berharap pemerintah terus memberikan dukungan selama musim kemarau masih berlangsung. Jika hujan segera turun dan ketersediaan air kembali normal, kondisi lahan pertanian di Lebak diharapkan berangsur membaik.

Dengan demikian, petani dapat kembali berproduksi secara maksimal dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian.

Sejumlah lahan sawah dan kebun petani mengalami kekeringan akibat sulitnya mendapatkan pasokan air. Kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian tidak berjalan maksimal. Tanaman yang membutuhkan cukup air mengalami pertumbuhan yang kurang baik sehingga hasil produksi petani berpotensi menurun.

Musim kemarau yang telah berlangsung hampir tiga bulan juga dirasakan oleh para petani sayur di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak. Mereka harus mencari berbagai cara agar tanaman tetap mendapatkan air. Minimnya ketersediaan air membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan.

Sebagian petani memilih membuat sumur bor, sementara lainnya terpaksa membeli air menggunakan kendaraan tangki. Kondisi tersebut menjadi beban tersendiri bagi petani. Sebab, biaya produksi meningkat di tengah hasil panen yang justru mengalami penurunan akibat kekeringan.

Heri, salah seorang petani sayur asal Kecamatan Cibadak, mengatakan sulitnya mendapatkan air mulai memengaruhi pertumbuhan tanaman di kebunnya.

"Air sekarang susah didapat. Tanaman banyak yang tidak tumbuh maksimal, hasil panen turun, sementara harga yang kami terima juga ikut turun," ujar Heri.

Kondisi tersebut membuat petani berada dalam situasi sulit. Di satu sisi mereka membutuhkan air untuk mempertahankan tanaman, namun di sisi lain biaya untuk memperoleh air cukup besar. Penurunan kualitas hasil pertanian juga berdampak terhadap pendapatan petani.

Sayuran yang dihasilkan tidak sebanyak dan sebaik ketika pasokan air masih mencukupi.

Ironisnya, meskipun harga yang diterima petani mengalami penurunan akibat kualitas hasil panen, harga sejumlah sayuran di tingkat pasar tetap relatif tinggi.bSituasi tersebut membuat kehidupan petani semakin tertekan.

Mereka berharap musim kemarau segera berakhir sehingga kebutuhan air untuk lahan pertanian dapat kembali terpenuhi. Heri mengatakan pembuatan sumur bor menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan air. Namun, biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit.

"Kami berharap hujan segera turun. Kalau air kembali tersedia, tanaman bisa tumbuh normal dan hasil panen membaik," kata Heri.

Selain membuat sumur bor, sebagian petani memilih membeli air menggunakan tangki untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Cara tersebut dilakukan agar tanaman tidak mati akibat kekurangan air. Namun, pengeluaran untuk membeli air tentu menambah beban biaya produksi.

Petani harus mengeluarkan uang lebih banyak agar lahan yang mereka kelola tetap bisa menghasilkan. Kekeringan tidak hanya terjadi pada lahan sayuran. Ratusan hektare sawah petani di Kabupaten Lebak juga dilaporkan mengalami kekeringan akibat musim panas yang berkepanjangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....