Kemarau Panjang Menguji Harapan Petani Sayur Lebak Tetap Bertahan
- 06 Agt 2026 07:40 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Musim kemarau yang telah berlangsung hampir tiga bulan mulai meninggalkan jejak panjang di hamparan lahan pertanian Kabupaten Lebak. Tanah yang biasanya lembap kini mengeras, retak-retak, seolah kehilangan denyut kehidupan.
Di tengah terik matahari yang nyaris tanpa jeda, para petani hanya bisa memandang langit. Mereka berharap awan gelap datang membawa hujan yang selama ini dinanti. Bagi sebagian orang, kemarau mungkin hanya berarti cuaca panas. Namun bagi petani, kemarau adalah ujian yang menentukan keberlangsungan hidup keluarga.
Air yang semakin sulit didapat menjadi persoalan utama. Saluran irigasi mulai mengering, sementara sumber-sumber air tak lagi mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian. Akibatnya, tanaman sayur tidak tumbuh seperti biasanya.
Daun-daunnya menguning, batangnya kecil, dan hasil panen jauh dari harapan. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap hasil pertanian. Jumlah panen menurun, sementara kualitas sayuran ikut merosot.
Ironisnya, meski petani menjual hasil panen dengan harga lebih murah karena kualitasnya menurun, harga sayuran di tingkat konsumen justru tetap tinggi. Perbedaan harga itu membuat petani semakin terjepit. Penghasilan menurun, tetapi biaya hidup dan kebutuhan keluarga terus berjalan.
Pagi itu, di Pasar Rangkasbitung, Heri tampak sibuk menata sayuran hasil kebunnya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tetap menyapa setiap pembeli yang datang. Petani sayur asal Kecamatan Cibadak itu sudah bertahun-tahun menjual hasil kebunnya sendiri ke pasar.
Baginya, bertemu pembeli adalah bagian dari perjuangan mempertahankan penghasilan. Di balik senyumnya, pria berusia 38 tahun itu menyimpan kegelisahan yang tak mudah diungkapkan.
Menurut Heri, kemarau tahun ini menjadi salah satu yang paling berat dalam beberapa tahun terakhir. "Sekarang air susah sekali didapat. Tanaman jadi kurang subur karena tidak bisa disiram setiap hari. Hasil panen turun jauh dibanding biasanya," ujar Heri, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ayah tiga anak itu mengaku setiap hari harus memutar otak agar tanaman di kebunnya tetap hidup. Namun keterbatasan air membuat usahanya tidak selalu berhasil.
Sayuran yang dipanen pun banyak yang ukurannya kecil sehingga harga jual ikut turun. "Yang membuat kami sedih, harga di tingkat petani turun karena kualitas kurang bagus. Tapi di pasar tetap mahal. Kami yang menanam justru dapat paling sedikit," katanya.
Heri juga merasakan daya beli masyarakat ikut menurun. Banyak pembeli memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit dibanding hari-hari biasa. Pendapatan yang terus berkurang membuat kebutuhan rumah tangga harus diatur dengan lebih hemat.
Meski demikian, Heri tetap berusaha bertahan demi keluarganya. Harapan serupa juga dirasakan Aji, petani sayur lainnya di Kecamatan Cibadak.
Ayah dua anak itu mengaku persoalan terbesar saat ini bukan hanya hasil panen yang berkurang, melainkan sulitnya memperoleh air untuk menyiram tanaman. "Kalau ada air, tanaman masih bisa diselamatkan. Tapi sekarang hampir setiap hari kami kebingungan mencari sumber air," ucap Aji.
Membuat sumur bor sebenarnya menjadi solusi yang paling memungkinkan. Sayangnya, biaya pembuatannya cukup besar sehingga belum mampu ia wujudkan. "Kami ingin membuat sumur bor supaya tidak bergantung pada hujan. Tapi biayanya mahal, sementara hasil panen sekarang justru sedang turun," katanya.
Di tengah segala keterbatasan, Heri dan Aji masih menyimpan harapan yang sama. Mereka berharap hujan segera turun agar tanah kembali basah, tanaman kembali hijau, dan kehidupan para petani perlahan kembali pulih.
Sebab bagi para petani di Lebak, turunnya hujan bukan sekadar perubahan musim. Hujan adalah harapan, sumber kehidupan, sekaligus jawaban atas doa-doa yang setiap hari mereka langitkan di tengah kemarau yang belum juga berakhir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....