Terik Iduladha Mengiringi Harapan Pedagang Daging di Rangkasbitung
- 27 Mei 2026 08:52 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Matahari siang menggantung tepat di atas langit Rangkasbitung. Panasnya terasa menyengat kulit, memantul dari aspal jalan dan atap-atap kios pasar yang padat.
Namun terik itu tak mampu mematahkan semangat para penjual daging musiman yang sejak subuh telah memenuhi area Pasar Rangkasbitung. Dua hari menjelang Hari Raya Iduladha 2026, denyut pasar terasa berbeda.
Aroma daging segar bercampur peluh manusia dan suara tawar-menawar menjadi irama khas yang hanya hadir pada momen tertentu setiap tahunnya. Di sudut pasar, sekitar 22 lapak pedagang daging berdiri berjejer.
Lapak-lapak sederhana beratapkan terpal biru itu menjadi tempat para pejuang rupiah menggantungkan harapan. Meski mereka bukan pedagang tetap.
Sebagian besar hanya berjualan ketika hari besar keagamaan tiba. Iduladha menjadi momentum penting untuk mencari tambahan nafkah bagi keluarga.
Di antara deretan pedagang itu, tampak Aldi dan Lukman. Dua lelaki yang hampir tak pernah absen menjual daging setiap musim Lebaran Haji datang.
Aldi duduk di bangku plastik kecil di bawah terpal yang mulai kusam. Keringat membasahi pelipis pria 33 tahun asal Kecamatan Kalanganyar itu. Sesekali ia menatap daging kerbau yang masih banyak tergantung di lapaknya.
Beberapa pembeli datang menghampiri. Mereka bertanya harga, melihat-lihat sebentar, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Aldi hanya bisa memandang punggung para calon pembeli yang menjauh perlahan.
“Banyak yang bilang mahal tahun ini. Jadi cuma tanya-tanya saja,” ujar Aldi pelan sambil merapikan gantungan daging, Senin, 25 Mei 2026.
Ia mematok harga Rp180 ribu per kilogram untuk daging kerbau yang dijualnya. Harga itu naik dibanding tahun lalu akibat tingginya harga hewan ternak. Meski demikian, Aldi mengaku tak mengambil keuntungan terlalu besar.
Modal yang dikeluarkan tahun ini jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. “Kalau saya jual murah, modalnya nggak balik. Tapi kalau harga segini, pembeli juga banyak yang mundur,” katanya sambil menghela napas panjang.
Siang itu waktu telah melewati tengah hari. Namun daging dagangannya nyaris belum berkurang. Tatapan Aldi tampak kosong sejenak menembus keramaian pasar. Dalam Iduladha kali ini, ia menyiapkan sekitar 100 kilogram daging kerbau.
Jumlah yang menurutnya cukup besar untuk ukuran pedagang musiman seperti dirinya. Ia berharap seluruh dagangannya habis sebelum malam takbiran tiba.
Sebab jika tidak, ia harus menanggung risiko kerugian yang tidak sedikit. “Harapan saya cuma satu, semoga habis semua. Biar bisa bawa uang untuk anak dan istri di rumah,” ucapnya lirih.
Tak jauh dari lapak Aldi, Lukman tampak berdiri sambil mengisap rokok. Asap tipis mengepul dari bibirnya, lalu hilang diterpa angin panas siang pasar.
Di depan lapaknya tergantung daging sapi dan kerbau yang tampak segar. Sesekali Lukman menyapa orang-orang yang melintas di depannya.
“Mangga Bu, Pak... dagingnya masih segar,” serunya menawarkan dagangan.
Namun hingga siang hari, baru dua kilogram daging yang berhasil terjual. Padahal harga yang dipasangnya lebih murah dibanding pedagang lain.
Lukman menjual daging seharga Rp160 ribu per kilogram. Harga itu sengaja dipatok lebih rendah agar pembeli tertarik datang ke lapaknya.
Meski demikian, kondisi pasar tetap sepi pembeli. Banyak warga memilih menahan pengeluaran karena kebutuhan hidup yang terus meningkat.
“Biasanya dua hari sebelum Iduladha begini ramai. Sekarang mah sepi. Orang-orang mungkin lagi susah ekonomi,” kata Lukman.
Untuk berjualan tahun ini, Lukman mengaku mengeluarkan modal besar. Ia menyiapkan daging dari tiga ekor sapi dan kerbau demi menyambut musim Iduladha.
Baginya, berjualan daging bukan sekadar mencari untung. Ada harapan yang ikut digantung bersama potongan-potongan daging di lapaknya.
Keuntungan dari berjualan daging akan digunakan untuk kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga selepas Lebaran. “Kalau dagangan habis, saya bisa tenang. Bisa kasih yang terbaik buat keluarga,” ujarnya dengan mata menerawang.
Di tengah panas yang membakar dan pembeli yang belum ramai datang, Aldi dan Lukman tetap bertahan di bawah terpal sederhana mereka. Mereka sadar, hidup tak selalu berjalan mudah.
Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, keduanya memilih tetap berdiri menjaga harapan. Sebab bagi para pedagang kecil itu, Iduladha bukan hanya tentang perayaan kurban, tetapi juga perjuangan panjang demi membawa pulang senyum untuk keluarga di rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....