Senyum Tulus Acid Dibalik Gerobak Batagor

  • 04 Jun 2026 06:14 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Terik matahari siang itu terasa menyengat. Musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino membuat udara di Kabupaten Lebak terasa lebih panas dari biasanya. Namun cuaca tak menyurutkan semangat Rosyid (18), pemuda asal Cikeusik, Pandeglang, yang akrab disapa Acid.

Di balik gerobak batagor sederhana miliknya di kawasan timur Alun-alun Rangkasbitung, senyum ramah terus mengembang menyambut para pembeli yang mengantre. Sudah dua bulan terakhir Acid menekuni profesi sebagai penjual batagor.

Sebelumnya, lulusan Madrasah Tsanawiyah itu bekerja sebagai kuli bangunan. Namun pekerjaan yang berat membuatnya mencari alternatif lain untuk tetap bisa bertahan hidup di perantauan.

Lebih dari setahun ia meninggalkan kampung halaman dan hidup seorang diri di Rangkasbitung. Jauh dari keluarga membuatnya belajar mandiri sejak usia muda.

Berjualan batagor menjadi pilihan yang menurutnya lebih ringan, sekaligus memberikan kesempatan untuk membantu perekonomian keluarga. Setiap hari, Acid mulai berjualan sejak pukul 08.00 WIB hingga menjelang waktu Isya atau sampai seluruh dagangannya habis terjual.

Batagor yang dijajakannya bukan hasil produksi sendiri. Ia mengambil dagangan dari seorang juragan dengan sistem bagi hasil. Di balik kesibukannya melayani pembeli, tersimpan alasan sederhana yang membuatnya terus bertahan.

Keinginannya bekerja muncul dari hati sendiri demi meringankan beban ekonomi orang tua di kampung halaman. "Orang tua sudah banyak berjuang untuk saya. Sekarang giliran saya membantu semampunya. Walaupun belum besar, saya senang masih bisa kirim uang untuk mereka," ujar Acid, Rabu, 3 Juni 2026.

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, sebagian penghasilannya rutin dikirim kepada orang tua. Sisanya digunakan untuk membayar kos dan memenuhi kebutuhan sehari-hari selama merantau.

Bagi sebagian orang, jumlah uang yang ia kirim mungkin tidak seberapa. Namun bagi Acid, setiap rupiah yang sampai ke tangan orang tua menjadi sumber kebahagiaan tersendiri.

Di tengah keterbatasan, ia tetap menyimpan harapan besar untuk masa depan. "Saya berharap suatu hari nanti bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak, supaya bisa mengirim uang lebih banyak lagi untuk orang tua," katanya penuh harap.

Di bawah terik matahari dan di balik gerobak batagor sederhana, Acid sedang menapaki jalan hidupnya. Dengan kerja keras dan ketulusan membantu keluarga, pemuda itu membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari niat tulus untuk membahagiakan orang-orang tercinta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....