Filosofi Bahtera Nabi Nuh dalam Semangkuk Bubur Suro
- 26 Jun 2026 08:26 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang – Di hangatnya cahaya pagi, ratusan masyarakat berkumpul memadati halaman Kantor Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang untuk menghidupkan kembali memori sejarah nabi lewat kehangatan seporsi bubur. Di bawah saung-saung berhias anyaman daun kelapa, kepulan asap dari tungku kayu tradisional mulai membumbung sejak pagi hari menyertai prosesi ritual adat tahunan tersebut.
Kepala Desa Bandung, Wahyu Kusnadiharja mengungkapkan, tradisi memasak massal ini berakar kuat pada kisah heroik penyelamatan umat manusia di dalam bahtera Nabi Nuh alaihis salam. Ia bercerita berdasarkan literatur kitab para ulama terdahulu, peradaban dunia saat itu sempat didera paceklik hebat pasca-banjir besar melanda bumi.
"Orang tua kami menceritakan bahwasannya diaweli dari cerita Nabi Nuh alaihis salam, seluruh manusia masuk ke dalam bahtera berhari-hari hingga bersandar dan kehabisan bahan baku untuk makan. Maka saat itulah kacang-kacangan dikumpulkan, beras tinggal sedikit, terus juga gandum sedikit diolah menjadi bubur untuk mencukupi kebutuhan makan minum tepat pada 10 Muharam," Kata Wahyu menjelaskan, Kamis 25 Juni 2026.
Kondisi kritis di atas kapal diperparah dengan menipisnya stok bahan baku pangan yang tersisa bagi seluruh penumpang bahtera. Tepat pada tanggal sepuluh Muharam, Nabi Nuh memerintahkan umatnya mengumpulkan sisa-sisa beras, gandum, serta aneka jenis kacang-kacangan yang ada.
Seluruh komoditas pangan yang tersisa tersebut akhirnya diolah bersama menjadi sajian bubur pekat agar bisa mencukupi kebutuhan makan semua penumpang. Peristiwa historis penuh nilai religius inilah yang kemudian diadaptasi menjadi warisan kearifan lokal oleh masyarakat Desa Bandung secara turun-temurun.
Pemerintah desa memposisikan festival kebudayaan ini sebagai benteng pertahanan jati diri warga dalam menjaga orisinalitas tradisi leluhur. Visualisasi replika kapal yang didirikan oleh warga di area festival menjadi simbol pengingat eksistensi bahtera penyelamat di Bukit Judi.
"Ini merupakan nilai kearifan lokal dan seni budaya bagi masyarakat kami yang harus tetap kami pertahankan serta kami lestarikan setiap tahunnya," ujarnya.
Seorang warga Kampung Bandung, Lilis, menceritakan pembuatan dekorasi saung menyerupai perahu sengaja dibuat demi mencerminkan kembali suasana kelaparan masa lalu. Ragam sayur serta biji-bijian yang dimasak dalam kuali besar menjadi representasi dari bahan makanan yang disatukan saat kapal bersandar.
Rasa kebersamaan warga kian kental saat proses mengaduk adonan bubur dilakukan secara bergantian oleh kelompok ibu-ibu sejak fajar menyingsing. Agenda rutin ini dinilai Lilis sukses mempererat tali silaturahmi antarkampung yang sempat renggang akibat kesibukan aktivitas harian.
"Ini kapal dari Bukit Judi karena pada waktu itu kan kelaparan tidak ada makanan, di situ ada beras, kacang-kacangan, sayuran disatukan jadilah Bubur Suro ini. Iya jadi rutin, tahun kemarin seperti ini dan tahun ini alhamdulillah bisa merayakan lagi secara gurih-gurih pakai santan dan ada kacangnya," ucap Lilis.
Menurutnya karakteristik utama sajian Bubur Suro di wilayah Desa Bandung terletak pada formula kuah santan kental yang menghasilkan cita rasa gurih alami. Tekstur lembut bubur berpadu sempurna dengan taburan aneka jenis kacang-kacangan yang bertekstur renyah saat dikunyah.
Masyarakat setempat mengaku bersyukur tradisi sarat makna ini tetap bisa terselenggara secara meriah dengan keterlibatan generasi muda. Eksistensi kuliner sakral ini tidak lagi sekadar menu pengisi perut, melainkan medium refleksi rasa syukur atas keselamatan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....