Pelestarian Budaya Lokal Jadi Pilar Identitas Masyarakat Pandeglang
- 30 Mei 2026 14:48 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tradisi Ngadu Bedug sebagai pilar utama identitas sosiologis masyarakat Kabupaten Pandeglang di tengah hantaman arus modernisasi. Penguatan nilai-nilai kearifan lokal ini dinilai krusial guna membentengi generasi muda dari ancaman kehilangan jati diri kedaerahan yang agamis.
Penegasan tersebut mengemuka saat pembukaan festival budaya Gebrag Ngadu Bedug 2026 yang berpusat di Alun-Alun Kabupaten Pandeglang, pada Jumat 29 Mei 2026. Ajang tahunan yang mengusung tema “Tang Ting Tung Dong, Warna Bunyi dalam Jerami” ini, kembali mengukuhkan eksistensinya dengan masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata selama dua tahun berturut-turut.
Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, mengapresiasi konsistensi seluruh sanggar seni dan Kampung Bedug yang setia merawat warisan leluhur di wilayah Pandeglang. Perkembangan zaman saat ini membawa tantangan yang semakin kompleks bagi eksistensi kesenian tradisional di tingkat bawah. Menurutnya, upaya regenerasi secara masif kepada kelompok usia muda perlu dilakukan agar nilai luhur yang melekat pada instrumen bedug tidak tergerus waktu.
“Kalau tidak kita pertahankan, identitas kita bisa hilang. Bedug adalah salah satu identitas budaya yang harus terus kita jaga,” ujar Dimyati usai pembukaan acara Gebrag Ngadu Bedug, Jumat, 29 Mei 2026.
Dimyati menyebut, pemerintah daerah wajib menjamin keberlanjutan pergelaran ini secara berkala setiap tahun agar status prestisius dalam skala nasional tersebut tidak dicabut. Ia menilai, sepanjang tiga hari pelaksanaan, 29–31 Mei 2026, kompetisi ini harus diposisikan sebagai ruang pertemuan strategis bagi para seniman, komposer nusantara, serta pelaku ekonomi kreatif.
Senada diutarakan Ketua Asosiasi Seniman Bedug Kabupaten Pandeglang, Endang Suhendar. Dia menjelaskan, sejarah perkembangan bedug bersinggungan langsung dengan sistem sosial kemasyarakatan masa lalu. Sebelum diadopsi ke dalam panggung festival modern, instrumen ini merupakan media komunikasi purba yang efektif antar-warga kampung.
Ia menilai transformasi fungsi dari alat penanda aktivitas menjadi karya seni pertunjukan justru memperkaya khazanah kebudayaan tanpa merusak nilai kesakralannya. “Bedug bukan sekadar alat bunyi. Ia adalah bahasa kampung yang diwariskan lintas generasi,” kata Endang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....