Terminal Mandala Sepi, Harapan Penghuninya Tetap Menyala

  • 05 Mei 2026 21:47 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID,Lebak - Panas terik menyengat kulit saat langkah kaki memasuki Terminal Mandala. Udara terasa berat, seolah ikut menanggung beban sepinya aktivitas yang dulu pernah begitu hidup. Terminal tipe A ini kini tampak lengang, jauh dari bayangan hiruk-pikuk yang dahulu menjadi denyut nadi pergerakan warga.

Di sudut terminal, beberapa sopir duduk santai. Tawa kecil sesekali terdengar, namun lebih sebagai pengusir sepi daripada tanda kebahagiaan. Mereka menunggu sesuatu yang tak kunjung datang: penumpang.

Deretan angkutan jenis elf terparkir rapi, seolah siap berangkat kapan saja. Namun kesiapan itu tak diiringi dengan kepastian. Tak ada aktivitas naik turun penumpang, tak ada suara kernet menawarkan tujuan.

Agus, salah seorang sopir sekaligus pemilik elf, hanya bisa menghela napas panjang. Hari itu, ia berangkat dari rumahnya di Cikotok Bayah sejak pukul 08.00 pagi, berharap mendapat rezeki lebih awal.

“Saya sampai sini jam setengah sebelas, tapi sampai sekarang belum dapat penumpang,” ujar Agus dengan nada lelah, Selasa, 5 Mei, 2026. Ia menatap kosong ke arah pintu masuk terminal, berharap ada orang yang datang menghampiri.

Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Kehadiran travel dan angkutan online menjadi pukulan telak bagi para sopir angkutan konvensional seperti dirinya.

“Sekarang orang lebih pilih yang praktis. Tinggal pesan, dijemput. Kami di sini cuma bisa nunggu,” katanya pelan.

Sepinya terminal tak hanya dirasakan Agus. Omik, pria yang sehari-hari menawarkan jasa mencuci mobil di area terminal, juga merasakan dampaknya.

Ia duduk di dekat ember dan lap yang tampak jarang terpakai. Aktivitas yang dulu tak pernah berhenti kini nyaris hilang.

“Dulu sehari bisa dapat paling sedikit sembilan puluh ribu. Sekarang mah sepi, sopir juga lebih sering cuci sendiri,” kata Omik sambil tersenyum tipis.

Sebagai ayah dari empat anak, penurunan penghasilan itu tentu bukan hal ringan. Namun ia memilih tetap bertahan, meski keadaan tak lagi berpihak.

Di sisi lain terminal, tepat di depan toilet umum, Jupri masih setia dengan termos dan gelas-gelas kecilnya. Aroma kopi yang ia sajikan kini tak lagi mengundang banyak orang.

Pria 48 tahun itu sudah bertahun-tahun berjualan di tempat yang sama. Ia hafal betul bagaimana ramainya terminal di masa lalu.

“Dulu sehari bisa bawa pulang sampai seratus ribu. Sekarang paling cuma empat puluh sampai lima puluh ribu dari pagi sampai malam,” ucap Jupri.

Meski demikian, ia tetap membuka lapaknya setiap hari. Baginya, bertahan adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.

Waktu terus berjalan, dan Terminal Mandala perlahan kehilangan denyutnya. Namun di balik sepi itu, masih ada orang-orang yang setia menggantungkan harapan.

Agus, Omik, dan Jupri mungkin hanyalah sebagian kecil dari cerita panjang perubahan zaman. Tapi mereka memilih untuk tidak menyerah.

“Mudah-mudahan suatu hari nanti terminal ini ramai lagi,” kata Agus penuh harap.

Harapan sederhana itu menjadi alasan mereka tetap datang setiap hari. Di tengah sunyi, mereka percaya bahwa roda kehidupan suatu saat akan kembali berputar lebih baik dan Terminal Mandala akan kembali hidup seperti dulu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....