Sholeh, Pelepas Dahaga di Tengah Hiruk Pikuk Jembatan Bogeg
- 27 Mar 2026 12:31 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Deru kendaraan tak pernah benar-benar reda di Jalan Syekh Nawawi Al Bantani. Di bawah Jembatan Bogeg, sebuah gerobak sederhana berdiri di tepi jalan. Dari sanalah Sholeh, penjual es asal Bogeg, menunggu rezeki tanpa jam pasti, tanpa kepastian hasil.
Sudah setahun ia menempati titik itu. Sholeh memulai usaha es setelah lima tahun berkeliling menjajakan sayur di kawasan Perumahan Puri Anggrek. Perubahan arah usaha terjadi setelah menikah. Pilihannya sederhana: tetap berdagang, apa pun bentuknya.
Pengalaman berjualan sayur menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Saat itu, ia kerap menghadapi persoalan pembayaran dari pembeli yang tidak lancar. Banyak dagangan diambil dengan sistem utang, tetapi tidak semuanya kembali menjadi uang.
“Dulu jualan sayur sering dihutangi. Ada yang bayar, tapi banyak juga yang enggak. Dari situ jadi berat di modal,” katanya saat berbincang dengan RRI, Jumat, 27 Maret 2026.
Kondisi tersebut membuat perputaran uangnya tersendat. Modal yang seharusnya digunakan untuk belanja kembali justru terhenti, hingga akhirnya ia memutuskan beralih ke usaha lain yang lebih sederhana.
“Karena modalnya keputar susah, akhirnya pindah jualan es,” ujarnya.
Kini, dengan gerobak sederhana, ia mencoba bertahan. Modalnya tak besar. Peralatan seadanya, bahan yang dibeli secukupnya. Ia berjualan mengikuti kondisi tubuh dan situasi jalan. Kadang pagi, siang, atau sore. Jika lelah datang, gerobak didorong pulang.
“Istirahat kalau sudah capek. Enggak ada jam pasti,” ucapnya.
Dukungan keluarga menjadi tenaga tambahan. Sang istri ikut menguatkan langkahnya untuk tetap bertahan di jalan. Dari hasil jualan, kebutuhan sehari-hari diupayakan terpenuhi, meski jumlahnya sering tak menentu.
Di lokasi itu, aturan juga menjadi bagian dari keseharian. Berjualan di atas jembatan dilarang. Ia memilih berada di bawah, ruang yang masih bisa digunakan meski tetap harus siap berpindah.
Baginya, Jembatan Bogeg bukan sekadar tempat mencari uang. Ia melihat perannya lebih dari itu. Pengendara yang lelah kerap berhenti sejenak, membeli minuman, melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan.
“Kadang ada yang istirahat sebentar, minum. Lumayan,” ujarnya.
| Baca juga: Nana Setia Berjualan Takjil Demi Keluarga |
Namun, ada masa ketika aktivitas berdagang dihentikan. Saat itu, suasana berubah drastis. Jalan terasa sunyi, tanpa aktivitas warga.
“Kalau enggak ada yang jualan, di sini sepi. Enggak ada yang mampir,” katanya.
Penghasilan dari berjualan es sulit ditebak. Tidak ada angka pasti setiap hari. Ia hanya berharap cukup untuk kebutuhan keluarga.
Di tengah keterbatasan, ada harapan sederhana yang terus ia simpan. Sebuah tempat khusus bagi pedagang kecil seperti dirinya, agar bisa berjualan tanpa khawatir ditertibkan.
“Penginnya ada tempat buat kami jualan. Biar jelas, buat cari makan sehari-hari,” ucapnya.
Di bawah bayang jembatan dan lalu lintas yang tak pernah berhenti, Sholeh tetap berdiri. Menjual segelas es, sambil menjaga harapan agar esok tetap bisa berjualan di tempat yang sama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....