Menanti Berkah Ramadan di Gang Empang
- 18 Feb 2026 12:40 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Rabu pagi, 18 Februari 2026, sehari menjelang Ramadan, suasana pasar Rangksbitung tampak lebih sibuk dari biasanya. Sejak usai salat Subuh, warga mulai memadati kawasan pasar untuk berbelanja kebutuhan sahur pertama.
Di sekitar pasar , kendaraan roda dua berjejer di berbagai sudut jalan. Deru mesin dan suara klakson berpadu dengan tawar-menawar pembeli dan pedagang yang menandai geliat ekonomi menjelang bulan suci.
Di Gang Empang, tepat di sebelah barat pasar, empat juru parkir tampak sigap mengatur kendaraan. Mereka berbagi tugas agar arus keluar-masuk pembeli tetap lancar di gang sempit itu. Di antara mereka, terlihat sosok pria setengah baya yang akrab disapa Amud. Dengan peluit kecil di tangan, ia mengarahkan pengendara untuk memarkir sepeda motor dengan rapi di sepanjang sisi jalan.
Amud adalah warga asli Empang. Sudah belasan tahun ia menekuni pekerjaan sebagai juru parkir di Gang Empang, profesi yang dijalaninya sejak masih bujangan.
“Sudah dari sebelum menikah saya kerja di sini. Alhamdulillah sampai sekarang masih dipercaya,” ujarnya sambil tersenyum, sesekali menghentikan percakapan untuk membantu pengendara yang hendak keluar.
Di sela kesibukannya, Amud bercerita tentang penghasilan yang ia peroleh. Saat pasar ramai, ia mengaku bisa membawa pulang sekitar Rp80 ribu per hari.
“Kalau lagi ramai banget, paling bersih sekitar delapan puluh ribu. Tapi kalau sepi, ya jauh di bawah itu,” katanya jujur.
Menurutnya, jika dihitung untuk kebutuhan sehari-hari keluarga dengan dua anak, penghasilan tersebut sebenarnya belum mencukupi. Namun ia memilih untuk tetap bersyukur.
“Memang belum cukup kalau buat kebutuhan rumah tangga sekarang. Tapi saya tetap syukuri saja, yang penting halal,” ucapnya lirih.
Menjelang Ramadan ini, Amud memulai aktivitas lebih pagi dari biasanya. Sejak selepas Subuh, ia sudah bersiap di lokasi parkir untuk mengantisipasi lonjakan pembeli pasar subuh. Pekerjaan itu dilakukan secara bergiliran dengan rekan-rekannya sesama juru parkir. Mereka saling berbagi waktu agar semua mendapat kesempatan yang sama mencari rezeki.
Amud mengenang masa sebelum para pedagang kaki lima dipindahkan ke pasar semi. Saat itu, penghasilannya bisa mencapai Rp200 ribu per hari karena ramainya pengunjung. “Dulu sebelum dipindah, bisa sampai dua ratus ribu sehari. Sekarang mah jauh berkurang,” ujarnya.
Meski begitu, ia menyimpan harapan besar pada Ramadan tahun ini. Ia berharap bulan suci membawa peningkatan rezeki bagi dirinya dan keluarga kecilnya.
“Semoga Ramadan ini ada berkah lebih, penghasilan juga bisa naik. Buat kebutuhan anak-anak,” katanya.
Bagi Amud, Ramadan bukan hanya soal mencari tambahan penghasilan. Seusai bekerja, ia memilih menghabiskan waktu di mushala dekat rumahnya sambil menunggu waktu berbuka.
“Kalau sudah selesai jaga parkir, saya biasanya langsung ke mushala. Nunggu buka sambil ibadah,” ujarnya.
Di tengah hiruk-pikuk pasar dan kerasnya perjuangan mencari nafkah, Amud tetap memelihara keyakinan sederhana: bekerja dengan jujur dan berharap pada keberkahan. Ramadan kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, menjadi ruang harapan bagi dirinya dan keluarga.