Kenaikan Harga Plastik Bebani Pedagang Kecil Pandeglang
- 09 Apr 2026 17:21 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang – Hembusan angin di sela dedaunan pohon Alun-alun Pandeglang menjadi saksi bisu perjuangan seorang pria lansia yang bertahan hidup di balik kepulan uap kopi panas. Di bawah keteduhan pohon yang menjadi posisinya mencari nafkah, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit mengenai lonjakan harga bahan baku kemasan.
Kenaikan harga gelas plastik dan kantong kresek dalam sepekan terakhir mulai menggerus keuntungan tipis yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarganya di tengah kondisi ekonomi yang kian menekan rakyat kecil.
Johar, pria berusia 70 tahun asal Kampung Kadupandak, Pandeglang yang tetap setia menyeduh kopi bagi para pelanggannya meski beban modal kini kian memberat. Menjalani profesi sebagai pedagang kaki lima selama sembilan tahun lebih, Ia merasakan betul perubahan drastis sejak Alun-alun Pandeglang masih sepi hingga dipadati banyak pesaing.
| Baca juga: Asa dari Lembaran Tikar di Pesisir Carita |
Namun, kini fokus utamanya bukan lagi sekadar bersaing dengan pedagang lain, melainkan bagaimana memutar modal yang terus terkuras akibat harga wadah plastik yang melonjak hingga dua kali lipat dari harga normal.
"Harga gelas es sekarang naik jadi Rp25.000, padahal sebelumnya cuma Rp15.000. Saya tidak bisa menaikkan harga kopi karena pembeli tidak kuat, pasaran di Pandeglang tetap Rp5.000. Akibatnya penghasilan jadi tipis sekali, buat makan saja sekarang kekurangan karena modal habis untuk beli plastik," ujar Johar, Kamis 9 April 2026.
Ia merinci harga satu pak gelas es isi 50 biji yang sebelumnya hanya dibanderol Rp15.000, kini melesat menjadi Rp25.000 di pasaran lokal sejak lima hari terakhir. Gelas kopi plastik berukuran kecil pun tidak luput dari kenaikan, dari harga Rp7.000 menjadi Rp10.000 per pak. Situasi ini menciptakan dilema besar bagi pedagang kecil sepertinya, mengingat menaikkan harga jual kepada pelanggan bukanlah pilihan yang realistis di tengah kurangnya daya beli masyarakat.
Segelas kopi seduh maupun es plastik tetap dijualnya dengan harga konsisten Rp5.000 demi menjaga minat pembeli agar tidak lari ke tempat lain. Namun, keputusan mempertahankan harga jual ini berdampak langsung pada penghasilan bersih hariannya yang merosot tajam. Keuntungan yang dahulu bisa mencapai Rp100.000 per hari, kini terkadang untuk mendapatkan Rp60.000 saja ia mengaku sangat kesulitan karena modal habis terserap untuk membeli plastik.
"Dulu pendapatan saya bisa Rp90.000 sampai Rp100.000 sehari, sekarang cari Rp10.000 saja tidak nyampai karena kenaikan harga plastik ini sudah lima hari. Harapan saya kalau bisa harganya turun lagi, kasihan orang kecil seperti saya kalau harga naik terus pasti kewalahan," katanya.
Sebelum harga plastik melambung, ia mengaku mampu menghabiskan hingga 50 gelas kopi dan 25 gelas es dalam satu hari saat suasana ramai. Namun, kini jumlah penjualan perharinya terkadang masih menyentuh angka 50 gelas.
Modal usaha yang terbatas bahkan membuatnya terpaksa berhenti berjualan rokok dan kini hanya mengandalkan penjualan kopi serta air mineral. Baginya, berjualan di bawah pohon Alun-alun bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan pertaruhan fisik di usia senjanya yang sudah memasuki kepala tujuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....