Terik Tak Menghentikan Langkah Pedagang Tape di Pasar Rau

  • 03 Apr 2026 13:06 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Terik matahari menyengat kawasan Pasar Rau. Di depan pintu masuk Pos 5, panas tak menyurutkan langkah pembeli yang datang silih berganti. Di antara lalu lalang itu, sepeda motor bermuatan tape singkong terparkir, menjadi lapak sederhana milik Iis Putra.

Keringat membasahi wajahnya, namun tangannya tetap sigap melayani pembeli. Rutinitas ini sudah dijalani sejak tahun 2000. Lebih dari dua dekade, ia bertahan di titik yang sama, menjajakan tape di tengah hiruk pikuk pasar.

“Saya jualan sudah lama, dari tahun 2000 sampai sekarang,” ujarnya singkat kepada RRI, Jumat, 3 April 2026.

Sebelum berjualan tape, Iis pernah menjadi tukang ojek pangkalan di sekitar Pasar Rau. Dari situlah ia mengenal aktivitas pasar, sekaligus melihat peluang berdagang yang kemudian ia jalani hingga kini.

Setiap hari, ia mulai berjualan sejak pukul 08.00 WIB hingga sekitar 17.00 WIB. Dalam sehari, 60 hingga 80 kilogram tape dibawanya menggunakan sepeda motor. “Satu motor cukup, maksimal bisa bawa 80 kilo,” katanya.

Tape yang dijual berasal dari pemasok di Cianjur. Ia memilih pasokan dari daerah tersebut karena kualitasnya dinilai lebih baik dan konsisten. Jika ada barang yang kurang bagus, bisa dikembalikan tanpa harus menanggung kerugian sendiri.

Harga jual tape saat ini Rp12 ribu per kilogram, dengan keuntungan sekitar Rp2 ribu hingga Rp3 ribu per kilo. Jika dagangan habis, penghasilan yang didapat cukup untuk kebutuhan keluarga. “Alhamdulillah, buat anak istri masih cukup,” ucapnya.

Di bawah panas siang, pembeli tetap berdatangan. Sebagian besar berasal dari wilayah Serang, ditambah pelanggan tetap yang sudah mengenal kualitas dagangannya. Tidak jarang, tape yang dibawa habis sebelum waktu berjualan usai. “Kadang habis, kadang sisa sedikit satu dua kilo,” katanya.

Usaha ini juga dijalankan bersama keluarga. Di area Pasar Rau, terdapat tiga lapak tape milik keluarganya. “Yang di cangkring adik saya, di sini saya. Jadi keluarga semua,” ujarnya.

Jika seluruh dagangan dari tiga lapak habis, total penjualan dalam sehari bisa mencapai sekitar dua kuintal. Perputaran uangnya cukup besar, meski keuntungan bersih tetap bergantung pada selisih harga per kilo yang didapat pedagang.

Bagi Iis, memilih tape bukan tanpa alasan. Produk ini dibuat secara alami dari singkong dengan bantuan ragi, dan sudah lama dikenal masyarakat. Tape dari Cianjur pun memiliki tempat tersendiri di pasar.

Di tengah panas yang menyengat dan aktivitas pasar yang tak pernah berhenti, Iis tetap bertahan. Sepeda motor yang menjadi lapaknya, serta pelanggan yang terus datang, menjadi bagian dari perjalanan panjangnya mencari nafkah di Pasar Rau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....