Dibalik Peluit Dona di Fajar Kota Rangkasbitung
- 28 Apr 2026 16:38 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Deru kendaraan mulai memecah pagi di Jalan Sunan Kalijaga, Pasar Rangkasbitung. Dalam hiruk-pikuk itu, seorang pria berdiri sigap di tepi jalan, meniup peluit dan melambaikan tangan, mengatur keluar masuk kendaraan yang silih berganti.
Dialah Dona, 43 tahun, seorang juru parkir yang telah empat tahun mengabdikan diri di pintu masuk timur pasar. Di tengah semrawutnya lalu lintas, ia menjadi penunjuk arah bagi kendaraan yang hendak keluar dari area parkir.
Pekerjaan ini bukanlah pilihan pertama dalam hidupnya. Namun, keadaan memaksanya untuk tetap bertahan demi menghidupi keluarga kecilnya. “Buat saya, ini bukan soal gengsi. Yang penting halal dan bisa makan,” ujar Dona sambil tersenyum tipis, Selasa, 28 April 2026.
Setiap hari, tanpa mengenal libur, Dona memulai pekerjaannya sejak pukul dua dini hari. Saat sebagian besar orang masih terlelap, ia sudah bersiap menyambut kesibukan pasar yang perlahan menggeliat.
Udara dingin dan kantuk tak menjadi penghalang baginya. Ia justru menemukan semangat dalam rutinitas yang dijalani dengan penuh tanggung jawab. Tak sekadar mengatur kendaraan, Dona juga kerap membantu para pedagang dan pengunjung pasar.
Ia mengangkat barang belanjaan, menata di atas sepeda motor, bahkan mengantarkan hingga ke angkot di tepi jalan.
“Kalau lihat orang kesulitan, ya saya bantu. Nggak harus diminta,” katanya dengan nada sederhana.
Namun, tak semua pengendara menghargai usahanya. Ada kalanya, ia harus menerima kenyataan pahit ketika pengunjung enggan membayar jasa parkir. “Sering ada yang pergi begitu saja. Tapi ya sudah, saya legowo saja. Mungkin mereka lagi butuh,” ucapnya dengan lapang dada.
Di balik kerja kerasnya, Dona juga memikul kewajiban setoran parkir sebesar Rp50 ribu setiap hari. Setelah dipotong setoran, penghasilannya yang tersisa tak lebih dari Rp70 ribu. Jumlah itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga. Meski terbatas, ia tetap bersyukur atas apa yang didapatkan.
Sebagai ayah dari dua anak, Dona menyimpan harapan besar. Ia ingin anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya. “Saya ingin anak-anak saya sekolah tinggi. Jangan seperti saya,” ujarnya dengan mata berbinar.
Baginya, pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan yang selama ini ia rasakan. Ia percaya kerja kerasnya hari ini adalah investasi untuk masa depan anak-anaknya. “Selama kita mau usaha, nggak ada yang nggak mungkin,” katanya penuh keyakinan.
Di tengah riuhnya pasar dan kerasnya kehidupan, Dona tetap berdiri tegak dengan peluit di tangan. Ia bukan sekadar juru parkir, melainkan simbol keteguhan dan harapan yang tak pernah padam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....