Harapan di Balik Rumah Bocor Pak Arip
- 11 Feb 2026 15:34 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Kumuh dan sumpek. Itulah kesan pertama saat menjejakkan kaki di rumah Bapak Muhamad Arif, warga Kampung Muara, Kecamatan Muara Ciujung Barat, Rangkasbitung. Rumah sederhana berukuran 5x9 meter itu berdiri di dataran rendah, tampak renta dimakan usia.
Di dalam rumah seluas 45 meter persegi tersebut, perabotan rumah tangga berserakan tanpa tatanan. Ruang yang sempit harus menampung enam orang penghuni: Pak Arif dan istrinya, dua orang anak, seorang menantu, serta seorang cucu.
Baca juga: Kisah Warga Pagelaran Ditengah Dilema Banjir, Bertahan atau Tinggalkan
Ketika hujan turun, suasana di dalam rumah berubah semakin muram. Hampir di setiap sudut, air menetes dari celah-celah genteng tanah liat yang telah rusak di banyak titik. Ember dan wadah seadanya diletakkan untuk menampung air yang jatuh dari atap bocor. “Kalau hujan deras, air masuk dari mana-mana. Kami cuma bisa tampung pakai ember,” ujar Pak Arif lirih saat berbincang dengan RRI, Rabu, 11 Februari 2026.
Pria berusia 64 tahun itu kini tak lagi mampu memperbaiki rumahnya. Sejak menjalani operasi mata pada 2005 silam, ia mengalami kebutaan permanen. Kondisi tersebut membuatnya tak lagi bisa bekerja seperti dulu. “Saya sudah tidak bisa melihat. Mau kerja apa pun sudah tidak mampu,” katanya pelan.
Ketiadaan penghasilan membuat keluarga ini bertahan dari pendapatan sang istri, Zubaidah, yang sehari-hari berjualan kue basah keliling kampung. Penghasilannya tak menentu, berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per hari. “Kalau lagi ramai, bisa dapat dua puluh ribu lebih. Tapi seringnya ya segitu saja,” kata Zubaidah.
Baca juga: Asa Remaja Penjual Kresek di Rangkasbitung
Pendapatan tersebut harus mencukupi kebutuhan enam orang anggota keluarga. Dalam kondisi sulit, mereka bahkan terpaksa mengurangi porsi makan. “Kadang kami makan nasi cuma sekali sehari,” ujar Pak Arif.
Anak mereka sebenarnya turut membantu dengan berjualan sempol di depan Rumah Sakit Misi Lebak. Namun, penghasilannya juga tidak menentu dan belum mampu menutup kebutuhan hidup keluarga besar itu.“Penghasilan anak saya juga pas-pasan. Jadi sering kali kami harus menahan lapar,” kata Pak Arif.
Letak rumah yang berada di dataran rendah menambah derita. Saat hujan deras mengguyur, air kerap menggenang dan masuk ke dalam rumah. Mereka harus bersahabat dengan basah dan dingin sepanjang malam. “Kalau hujan besar, air bisa masuk. Kami cuma bisa pasrah,” ucap Zubaidah dengan mata berkaca-kaca.
Baca juga: Pasukan Senyap Penjaga Keasrian
Beberapa kali, bantuan sosial berupa beras dari pemerintah memang pernah mereka terima. Namun bantuan tersebut belum mampu menjawab persoalan utama kondisi rumah yang semakin rapuh dan tak layak huni.
Kini, di usia senjanya, Pak Arif hanya menyimpan satu harapan sederhana. “Saya berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumah ini. Supaya tidak bocor dan tidak kebanjiran lagi. Saya ingin keluarga saya bisa tinggal lebih nyaman,” ucapnya penuh harap.