Asa Remaja Penjual Kresek di Rangkasbitung
- 04 Feb 2026 16:28 WIB
- Banten
RRI.CO.ID,Lebak - Jarum jam baru menunjuk pukul 05.30 WIB, namun denyut nadi Pasar Rangkasbitung sebagai pusat ekonomi Kabupaten Lebak sudah berdenyut kencang pada Rabu 4 Februari 2026. Di tengah riuh rendah tawar-menawar, langkah kaki dua pemuda tampak gesit membelah kerumunan.
Matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan diri, namun peluh sudah mulai membasahi dahi Noval dan Angga. Di tangan mereka, tumpukan kantong plastik merah berukuran 10 kilogram melambai-lambai, berharap ada jemari pembeli yang sudi meraihnya.
Noval, pemuda berusia 18 tahun asal Kampung Buah Nangka, adalah salah satu potret kegigihan di pasar ini. Sudah setahun lebih ia mengakrabkan diri dengan bau pasar dan suara klakson kendaraan demi menyambung hidup. "Sudah biasa kalau ditolak ibu-ibu yang lagi belanja, tinggal cari pembeli lain saja," ujar Noval sembari tersenyum tipis saat menawarkan jasanya di tengah hiruk pikuk pasar.
| Baca juga: Harapan di Balik Rumah Bocor Pak Arip |
Langkah Noval terpaksa berbelok ke pasar sejak ia putus sekolah di bangku kelas dua SMK. Keterbatasan biaya menjadi tembok besar yang menghalangi mimpinya untuk terus mengenyam pendidikan formal di sekolah menengah kejuruan tersebut.
Setiap pagi, ia mengadu nasib dengan modal hanya Rp2.000 untuk membeli stok plastik. Satu paket plastik berisi lima lembar ia jual seharga Rp1.000 per lembar, sebuah margin kecil yang ia kumpulkan rupiah demi rupiah. "Kalau lagi ramai, sehari bisa dapat sampai seratus ribu rupiah. Mulai dagang dari jam lima pagi sampai jam tiga sore," ucap anak sulung dari dua bersaudara ini mengenai penghasilannya.
Tak hanya menjual plastik, Noval juga menawarkan jasa "kuli angkut" dadakan. Ia siap membawakan belanjaan berat milik para ibu hingga ke kendaraan dengan upah sukarela berkisar antara Rp5.000 hingga Rp20.000.
Nasib serupa dialami oleh Angga, remaja berusia 15 tahun asal Desa Aweh, Kecamatan Kalanganyar. Di usia yang seharusnya masih duduk di bangku SMP, Angga justru harus berjibaku dengan kerasnya dunia kerja di pasar.
Sebagai anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, beban ekonomi keluarga memaksanya menanggalkan seragam sekolah lebih awal. Bagi Angga, tidak ada pilihan lain selain membantu orang tua demi dapur tetap mengepul.
"Modal awal cuma dua ribu, sehari bisa untung tiga puluh ribu bersih. Uangnya buat jajan sedikit, sisanya saya kasih ke orang tua di rumah," kata Angga dengan nada bicara yang dewasa melampaui usianya.
Meski sering mendapat penolakan mentah-mentah dari calon pembeli, Angga tidak pernah menaruh dendam atau menyerah. Baginya, setiap langkah di pasar adalah ikhtiar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di masa depan.
"Saya ingin sekali punya pekerjaan yang lebih bagus nanti, biar bisa membanggakan ayah dan ibu," ucapnya lirih sebelum kembali mengejar seorang pembeli yang membawa banyak barang bawaan.
Waktu terus bergulir dan matahari semakin tinggi, membuat suasana Pasar Rangkasbitung kian sesak. Perbincangan pun berakhir karena dua remaja tulang punggung keluarga ini harus kembali mengejar asa di balik lembaran plastik asoy.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....