Kisah Warga Pagelaran Ditengah Dilema Banjir, Bertahan atau Tinggalkan
- 16 Jan 2026 15:32 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Tembok yang basah dan lantai yang tergenang kembali menjadi pemandangan pilu di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran. Banjir tahunan yang selalu datang kini memaksa puluhan warga hidup berdesakan di posko pengungsian, menyisakan pilihan sulit antara mempertahankan tanah kelahiran atau menyerah pada siklus bencana yang tak kunjung usai.
Lantai rumah Rukiyah di Kampung Pasar, Desa Pagelaran, kini hanya menyisakan lumpur dan kenangan pahit. Bagi wanita berusia 50 tahun ini, banjir bukan lagi tamu asing, melainkan rutinitas tahunan yang kian hari kian mengganas. Tahun ini terasa lebih menyesakkan karena ia harus berjibaku menyelamatkan sisa harta benda seorang diri, tanpa lagi didampingi sang suami yang telah berpulang pasca menderita stroke tahun lalu.
"Suami saya stroke waktu banjir tahun kemarin, udah setahun ini banjir lagi. Sedih, sekarang tinggal berdua saja dengan anak yang kedua," ucapnya, Jumat, 16 Januari 2026.
Kasur yang basah, pakaian yang berlumpur, hingga peralatan dapur yang hanyut menjadi pemandangan repetitif setiap musim penghujan tiba. Bagi Rukiyah tidak ada kemewahan untuk membeli perabotan baru setiap kali air surut. Ia hanya mampu menjemur kasur yang lembap, berharap matahari cukup terik untuk menghilangkan sisa air sungai yang masuk ke dalam rumah. Meski duka dan kerugian terus berulang, pilihan untuk pindah adalah kemustahilan bagi mereka yang tidak memiliki tanah lain untuk berpijak.
"Enggak punya tempat lain, jadi hanya bisa di sini aja bersama anak. Punya saudara di mana-mana, tapi hanya punya tempat di sini aja," ucapnya.
Kondisi serupa memaksa puluhan warga lainnya mencari perlindungan ke titik yang lebih tinggi. Musala Kampung Pasar kini beralih fungsi menjadi ruang aman sementara bagi warga yang rumahnya sudah tidak lagi bisa ditempati. Tidur berdesakan di atas tikar menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup sembari menunggu air yang merendam permukiman mereka surut, yang biasanya memakan waktu hingga satu minggu lamanya.
Edah, salah satu pengungsi di musala mengaku, gelombang pengungsi terus bertambah seiring meningkatnya debit air. Bersama 60 orang warga lainnya, ia dan keluarganya kini menggantungkan hidup di posko pengungsian tersebut karena rumah mereka terkepung air yang tak kunjung surut sejak malam sebelumnya.
"Biasanya di sekolah aja, tapi kalau airnya besar ya ke sini (Masjid). Tadinya poskonya di sekolah, tapi karena kebanjiran pindah ke sini," ucap Edah.
Bagi warga yang mempunyai rumah bertingkat lebih memilih tetap bertahan di lantai dua rumah mereka atau area yang masih kering guna menjaga sisa harta benda mereka. Sedangkan, bagi Edah yang rumahnya terendam total, tidak ada pilihan selain meninggalkan rumah dan membiarkan barang-barang mereka terendam demi keselamatan nyawa.
Saat ini, banjir masih mengepung Desa Pagelaran, walaupun ketinggian air kian surut. Di tengah keterbatasan, mereka saling berbagi tempat dan kekuatan, menanti hari di mana air kembali ke sungai dan mereka bisa pulang untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang selalu kembali setiap tahunnya.