Sekolah Rakyat, Menenun Harapan dari Ruang-Ruang Kehidupan
- 21 Jan 2026 16:10 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Sekolah Rakyat lahir dari kesadaran bahwa pendidikan bukan sekadar bangku, papan tulis, dan seragam rapi. Ia tumbuh dari proses panjang, dari kebiasaan yang perlahan diubah, dari kenyamanan yang dibangun dengan kesabaran. Di ruang-ruang sederhana itulah anak-anak belajar menerima keadaan sekaligus menata masa depan.
Sekolah ini menarik, bukan karena gemerlap fasilitas, melainkan karena keberaniannya menyentuh sisi terdalam kehidupan seperti karakter, kebiasaan, dan harapan yang nyaris padam. Tantangan terbesar Sekolah Rakyat bukan terletak pada sarana prasarana, karena gedung, ruang belajar, dan kebutuhan dasar relatif telah terpenuhi.
Baca juga: Dua Sekolah Rakyat Sudah Beroperasi di Banten
"Sebetulnya yang jauh lebih sulit adalah mengubah karakter anak dan orang tua yang telah lama terbentuk oleh kerasnya hidup," ujar Penyuluh Sosial Ahli Muda Dinas Sosial Kota Serang sekaligus Penanggung Jawab Sekolah Rakyat di Kota Serang, Oni Tri Wahyudi saat diwawancarai RRI, Selasa, 21 Januari 2026.
Mengubah kebiasaan bukan perkara semalam, ia menuntut strategi, pendampingan, dan layanan yang manusiawi. Di sinilah Sekolah Rakyat bekerja perlahan, menanamkan disiplin tanpa paksaan, membangun rasa percaya tanpa menghakimi. Sekolah Rakyat memahami satu hal penting. mendidik anak tanpa mendampingi orang tua adalah pekerjaan setengah jalan.
Maka, selain anak-anak diasuh dan dibentuk di asrama, orang tua pun dirangkul melalui program parenting dan pendampingan. Mereka diajak belajar ulang tentang pola asuh, tentang pentingnya pendidikan, tentang harapan yang bisa diwariskan. Bahkan, pemberdayaan ekonomi turut menjadi bagian dari perjalanan ini.
Baca juga: Sekolah Rakyat Kota Serang Beroperasi Akhir September
Oni mengatakan, untuk mengubah pola pikir Masyarakat tentang sekolah rakyat, maka orang tua diberi modal usaha sesuai potensi, dari gerobak gorengan hingga peralatan sederhana, agar kemandirian tumbuh bersamaan dengan mimpi anak-anak mereka. Program ini menjadi pembeda di tengah pola bantuan sosial yang sering kali berhenti pada pemberian.
"Sekolah Rakyat tidak sekadar memberi, tetapi mengubah. Anak-anak yang sebelumnya tidak terbiasa dengan keteraturan, tapi sekarang harus bangun dengan disiplin, mencuci pakaian sendiri, menjaga kebersihan tubuh, makan teratur tiga kali sehari. Jadi dari hal-hal kecil itulah karakter dibangun, mereka belajar bertanggung jawab, belajar menghargai diri sendiri, dan perlahan mengenal arti masa depan," ujarnya.
Perubahan itu dijaga agar tak runtuh saat anak kembali ke rumah. Setiap dua minggu, ketika orang tua datang menjenguk, ruang-ruang dialog dibuka. Pelatihan dan parenting dilakukan, agar kebiasaan baik yang tumbuh di sekolah tidak kembali luruh. Wali asuh menjadi jembatan antara sekolah dan rumah, penjelmaan orang tua yang mendampingi dengan empati. Di sanalah komunikasi dijaga, ilmu dibagikan, dan perubahan dirawat bersama.
Baca juga: Sekolah Rakyat Buka Jalan Hingga Perguruan Tinggi
Di Kota Serang, Sekolah Rakyat mulai bersemi sebagai rintisan harapan. Kuota siswa telah berjalan, lahan seluas 6,5 hektare di Kasemen disiapkan untuk masa depan. Pemerintah daerah berupaya menopang langkah program pusat agar sekolah ini dapat berdiri kokoh.
Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi Pendidikan, ia adalah ruang rehabilitasi sosial, tempat anak-anak dan orang tua sama-sama belajar bangkit. Dari sanalah harapan ditenun, pelan namun pasti, menjadi cerita perubahan yang nyata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....