Stadion Badak Kawah Candradimuka Pesepak Bola Pandeglang
- 26 Mei 2026 06:00 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Kabut tipis pagi hari di kawasan Olahraga dibawah kaki Gunung Karang belum sepenuhnya memudar saat puluhan anak muda sudah memadati area rumput Stadion. Suara peluit pelatih yang melengking tinggi bersahutan dengan deru langkah sepatu bola di atas lapangan hijau.
Infrastruktur olahraga ini kini sedang menempa talenta lokalnya demi membangkitkan kembali kejayaan tim legendaris Badak Ujung Kulon. Stadion Badak Kabupaten Pandeglang yang berlokasi di Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang ini berdiri kokoh sebagai kawah candradimuka sekaligus saksi bisu lahirnya talenta emas pesepak bola muda di Banten Selatan.
Infrastruktur olahraga kebanggaan masyarakat Banten Selatan ini terus dioptimalkan fungsinya guna memfasilitasi generasi muda dalam mengasah skill dan memburu gelar juara setinggi-tingginya. Plt. Kepala Bidang Olahraga pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang, Karna Suyana, mengonfirmasi pemerintah daerah telah menuntaskan proyek revitalisasi besar-besaran pada tahun anggaran 2025.
Penataan fisik dilakukan secara menyeluruh mencakup pembenahan area interior, eksterior, hingga pemutakhiran sistem manajemen pengelolaan stadion. "Pemerintah Kabupaten Pandeglang sudah banyak melakukan pembenahan dan revitalisasi Stadion Badak ini sejak tahun 2025 dari mulai luar sampai dalam. Tahun 2026 ini kami lebih berfokus pada pemeliharaan sarana dan prasarananya," ujar Karna di sela-sela peninjauan latihan atlet, Senin 25 Mei 2026.
Pemerintah daerah saat ini tengah mematangkan pengajuan anggaran tahun 2027 untuk melakukan penataan pintu masuk serta peningkatan mutu rumput lapangan utama. Langkah taktis ini dikombinasikan dengan pembukaan ruang kerja sama komprehensif bersama klub lokal seperti Persatuan Sepak Bola Indonesia Pandeglang (Persipan), Badak Muda Banten, hingga rumpun Sekolah Sepak Bola (SSB).
Dukungan penuh diberikan kepada klub-klub tersebut guna melahirkan kembali generasi emas bertenaga badak layaknya kejayaan tim legendaris Badak Ujung Kulon. Karna menyebut Stadion Badak bukan lah satu-satunya aset pemenuh tagar mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga di wilayah Banten Selatan.
Kabupaten Pandeglang tercatat memiliki tiga fasilitas penunjang lain meliputi Stadion Berkah di Jalan Lapangan Sukarela, Kampung Kadupandang untuk sepak bola, serta Graha Pancasila khusus olahraga bulutangkis. Selain itu, terdapat Gedung Olahraga (GOR) Cikupa yang berdiri tepat di sebelah kantor Disdikpora sebagai pusat latihan basket bulu serta olahraga prestasi lainnya.
Kompleks Stadion Badak juga dikatakan Karna dirancang multifungsi dengan menyediakan fasilitas lintasan lari jogging track, area senam aerobik, lapangan voli, hingga arena bermain skateboard bagi komunitas pemuda. Kebijakan pembebasan akses pemanfaatan fasilitas ini berlaku terbuka bagi masyarakat umum maupun atlet dari luar wilayah Pandeglang.
"Kami membuka kesempatan bagi semua lapisan masyarakat dan klub untuk memanfaatkan stadion ini guna menghasilkan tunas muda yang lebih baik seperti zaman dulu. Beberapa program penataan baru pintu masuk dan lapangan juga sedang kami ajukan untuk tahun anggaran 2027," katanya.
Tokoh Sepak Bola Kabupaten Pandeglang, Mustandri, mengungkapkan sebuah fakta unik bahwa Stadion Badak pernah menorehkan prestasi fenomenal di level nasional pada periode tahun 2007-2008. Fasilitas olahraga ini sukses menyabet gelar Juara Pertama Nasional dalam lomba tata kelola dan pemeliharaan stadion terbaik se-Indonesia untuk kategori kabupaten dan kota.
Prestasi mentereng tersebut diraih setelah tim penilai pusat melihat konsistensi pemeliharaan rumput dan kebersihan fasilitas. "Fakta menariknya, Stadion Badak ini pada tahun 2007–2008 mendapat juara pertama nasional tentang pengelolaan dan pemeliharaan stadion seluruh Indonesia untuk tingkat kabupaten kota," kata Mustandri mengingat rekam jejak aset daerah.
Dampak dari penghargaan nasional tersebut dikatakan Mustandi memicu ledakan masif pada pertumbuhan klub sepak bola amatir di tingkat kampung hingga pelosok kecamatan. Ia menyebut jumlah perkumpulan sepak bola di Pandeglang melonjak tajam dari yang semula hanya 50 klub kini telah menembus angka 100 klub lebih.
Mustandri menorehkan catatan sejarah sebagai pionir utama yang mendirikan SSB pertama di Kabupaten Pandeglang, yaitu SSB Banten Raya pada tahun 1997. Seiring berjalannya waktu, dedikasi tersebut memicu berdirinya SSB Badak Muda yang kini menjadi salah satu kiblat pembibitan usia muda.
Menurutnya magnet kemegahan Stadion Badak menumbuhkan motivasi besar bagi seluruh anak-anak di pelosok desa yang bermimpi untuk bisa mencicipi atmosfer bertanding di lapangan utama. Pelatih Sepak Bola Banten Raya sekaligus mantan pesepak bola Persipan, Mahmud Muryanto, menjadi saksi perkembangan Stadion Badak.
Bersama timya dulu, Ia menceritakan sebelum berdirinya Stadion Ia dan rekan-rekannya harus latihan di Alun-alun Pandeglang yang saat itu masih tanah datar tanpa ada fasilitas pendukung. Namun kini, ketersediaan sarana latihan bisa Ia rasakan walau bukan sebagai seorang pemain.
"Kondisi dulu sangat berbeda dengan era sekarang, di mana dulu sarana belum ada dan keuangan juga susah," ujarnya.
Memasuki masa pensiun, mantan Pegawai Negeri Sipil ini memilih mengabdikan seluruh sisa energinya di Stadion Badak untuk membentuk kiper-kiper muda berbakat. Jadwal latihan intensif di lapangan utama pun ditetapkannya secara berkala setiap hari Rabu, Jumat, dan Minggu melalui sistem pendaftaran terbuka bagi umum.
Fokus pembinaan pada pertengahan tahun ini sedang diarahkan Muryanto untuk mempersiapkan tim dalam menyongsong tiga turnamen kelompok umur berskala regional. Target utama yang dibidik adalah meraih prestasi optimal pada ajang Piala Soeratin untuk kategori usia di bawah 13, 15, dan 17 tahun.
"Terakhir saya kemarin purnabakti 2024, sekarang saya mengabdi di sini khusus sebagai pelatih penjaga gawang untuk persiapan mengikuti Piala Soeratin 13, 15, dan 17 tahun ini," ucap Muryanto.
Kini Stadion Badak Kuranten bukan lagi sekadar hamparan rumput dan deretan beton tak bernyawa. Stadion badak menjadi garis waktu yang merekam kontrasnya perjuangan masa lalu, sekaligus menjadi jembatan bagi ratusan klub dan ribuan tunas muda Pandeglang untuk melompati keterbatasan fisik serta finansial daerah.
Dari kepakan sayap prestasi tingkat nasional hingga detak nadi kompetisi Piala Soeratin yang kini tengah dipersiapkan, stadion ini menegaskan satu pesan optimisme kejayaan Badak Ujung Kulon tidak pernah mati. Stadion ini hanya sedang menempa diri untuk kembali merebut podium tertinggi di tanah air.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....