Menenun Harapan di Balik Dinding Retak SDN Cimanggu 3 Pandeglang
- 23 Apr 2026 16:54 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Riuh suara anak-anak mengeja abjad terdengar dari balik pintu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di SDN Cimanggu 3, Kabupaten Pandeglang. Pemandangan ini bukan simulasi penanganan medis, melainkan potret keseharian siswa kelas 4 yang terpaksa mengungsi akibat ruang kelas yang seharusnya mereka tempati sudah tidak layak huni. Di sudut lain, siswa kelas 5 nampak berhimpit di sela-sela rak perpustakaan, mencoba merajut mimpi di tengah keterbatasan fasilitas yang kian memprihatinkan.
Gedung sekolah yang berlokasi di Kampung Pamatangkupa, Desa Cimanggu ini seolah menjadi saksi bisu perjuangan pendidikan di pelosok Banten. Tembok-tembok bangunan nampak retak hingga terbelah, plafon berlubang menganga, serta lantai keramik yang pecah menjadi pemandangan yang menyambut siapa saja yang berkunjung. Kerusakan berat ini bukan lagi sekadar gangguan estetika, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan ratusan siswa yang menuntut ilmu di sana.
Kepala SDN Cimanggu 3, Nunung Hasanah, menceritakan betapa sulitnya menjaga ritme belajar mengajar di tengah kondisi bangunan yang nyaris roboh. Sejak dirinya bertugas pada tahun 2024, belum ada perubahan signifikan meski usulan perbaikan telah menjadi harapan yang terus disuarakan.
"Kami terpaksa menerapkan sistem belajar bergantian. Kelas 1 dan kelas 2 harus berbagi waktu, sementara ruang-ruang alternatif seperti UKS dan perpustakaan dialihfungsikan menjadi ruang kelas darurat agar anak-anak tetap bisa belajar," ucap Nunung, Kamis, 22 April 2026.
Namun menurutnya, Ujian sesungguhnya datang saat awan hitam mulai menggelayut di langit Cimanggu. Ketika hujan turun, ruang kelas yang bocor menjadi medan air yang merembes masuk, memaksa siswa kelas 3 mengungsi ke teras sekolah. Di sanalah, dengan terpaan angin dan percikan air hujan, mereka tetap memegang buku, berusaha fokus meskipun kenyamanan jauh dari genggaman.
Ia bercerita saat hujan turun, teras sekolah yang seharusnya menjadi ruang bermain, langsung berubah menjadi ruang kelas utama saat cuaca tidak bersahabat. Kebocoran atap yang parah membuat kegiatan belajar di dalam ruangan menjadi mustahil dilakukan saat musim penghujan tiba.
Harapan demi harapan pun terus digantungkan oleh pihak sekolah kepada pemerintah daerah maupun pusat. Rehabilitasi gedung secara total menjadi harapan besar baginya beserta anak-anak muridnya untuk menjamin keamanan dan kenyamanan proses edukasi. Tanpa adanya perhatian serius, Ia khawatir struktur bangunan yang mulai rapuh dapat membahayakan keselamatan warga sekolah sewaktu-waktu.
"Harapan saya bangunan ini segera diperbaiki secara permanen. Kasihan anak-anak kami, mereka berhak mendapatkan ruang kelas yang layak dan aman seperti siswa di wilayah lainnya," pungkas Nunung penuh harap.
Baginya sekolah di kaki Desa Cimanggu ini, pendidikan adalah satu-satunya jalan menuju masa depan yang lebih baik. Namun, menurutnya anak-anak sekolah hanya bisa berharap agar suara mereka sampai ke telinga para pengambil kebijakan, supaya tidak ada lagi cerita tentang belajar di teras atau mengungsi ke ruang UKS.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....