Menyapa Pagi Bersama Penjaga Kebersihan Kota
- 20 Jan 2026 17:29 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Matahari baru saja menampakkan sinarnya ketika Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) Balong Rancalentah, Kabupaten Lebak, mulai diramaikan aktivitas para petugas kebersihan. Di tengah bau menyengat limbah rumah tangga yang basah dan menghitam, sekitar lima orang petugas sudah sibuk bekerja sejak pagi hari.
Genangan air hitam dari limbah sampah menambah kuat aroma tak sedap di sekitar TPS. Namun kondisi tersebut tak menyurutkan semangat para petugas. Dengan perlengkapan sederhana, mereka tetap bekerja mengumpulkan, memilah, dan membersihkan area sekitar TPS. Ada yang menyapu jalan, ada pula yang memilah sampah yang masih bernilai guna. Wajah-wajah mereka tampak tenang, seolah bau busuk dan becek sudah menjadi bagian dari rutinitas yang tak lagi mengganggu.
Di antara para petugas itu, terlihat dua sosok bapak setengah baya, Joko dan Sukatma. Keduanya merupakan petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak yang hampir setiap hari menghabiskan waktu dari subuh hingga petang bersama sampah masyarakat. Joko, warga Kaum Rangkasbitung, telah mengabdikan diri sebagai petugas kebersihan selama kurang lebih 30 tahun. Ia bertugas sebagai penyapu Jalan Siliwangi dan kini berstatus sebagai PNS DLH Lebak.
Usianya telah menginjak 58 tahun, dan hanya dua bulan lagi ia akan memasuki masa pensiun. “Saya mulai kerja jam lima subuh sampai jam enam sore. Dulu sempat coba kerja macam-macam, tapi tidak ada yang bertahan lama. Yang paling lama ya jadi tukang kebersihan ini,” kata Joko sambil tersenyum, saat ditemui di TPS Balong Rancalentah, Selasa 20 Januari 2026.
Ia bersyukur karena dari pekerjaan itu akhirnya bisa diangkat menjadi PNS. Ayah dari tiga anak dan kakek dari empat cucu ini mengaku telah melewati berbagai suka dan duka. Menurutnya, penghasilan sebagai petugas kebersihan memang tidak besar, terlebih di tengah harga kebutuhan yang terus naik. “Kalau dibilang cukup ya sebenarnya tidak cukup, apalagi sekarang semuanya mahal. Tapi ya dicukup-cukupin saja, istri di rumah bantu jualan kecil-kecilan,” ujarnya.
Meski demikian, Joko tetap menjalani pekerjaannya dengan ikhlas. Ia mengaku sedih jika jalan yang sudah disapu bersih kembali kotor karena ulah pengguna jalan yang membuang sampah sembarangan. “Rasanya capek, tapi ya itu risiko. Mudah-mudahan masyarakat bisa lebih sadar,” katanya.
Bahkan setelah pensiun nanti, Joko masih ingin tetap berkontribusi. “Kalau diizinkan, saya masih mau bantu-bantu seperti sekarang. Sudah terbiasa ngurusin sampah,” ucapnya.
Ia juga kerap memanfaatkan sampah tertentu yang masih bisa dijual untuk menambah pemasukan keluarga. Sementara itu, Sukatma, warga Cirende, Kecamatan Kalanganyar, juga telah lama menjadi bagian dari barisan petugas kebersihan DLH Lebak. Ia masih memiliki empat tahun masa kerja sebelum pensiun dan setiap hari bertugas di TPS Balong Rancalentah sejak pukul lima pagi.
Bagi Sukatma, pekerjaan ini dijalani sepenuh hati. “Kami kerja ikhlas saja. Keluarga juga mendukung, tidak malu dan tidak gengsi, karena ini pekerjaan halal,” katanya.
Dukungan keluarga menjadi penyemangat utama baginya untuk terus bekerja di tengah kondisi yang tidak mudah. Ia berharap ke depan kehidupan keluarganya bisa menjadi lebih baik. Selama bertahun-tahun berkutat dengan sampah, Sukatma mengaku belum pernah menemukan barang berharga yang terbuang oleh warga.
Namun seperti Joko, Sukatma juga kerap memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. “Paling botol aqua, galon, atau plastik yang bisa dijual. Lumayan buat nambah-nambah,” katanya sambil terus bekerja.
Di balik bau busuk dan pemandangan yang kerap dihindari banyak orang, Joko dan Sukatma menjalani peran penting menjaga kebersihan kota. Dengan kerja keras dan keikhlasan, mereka menjadi sosok-sosok sederhana yang setiap pagi menyapa kota lewat sapu dan tumpukan sampah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....