Tiga Dekade Sidik Menggeluti Usaha Pempek di Pinggir Jalan

  • 03 Mar 2026 15:57 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Suara azan Magrib baru saja selesai berkumandang di langit , menandakan waktu berbuka puasa telah tiba. Namun di salah satu sudut pasar, Sidik masih sigap melayani pembeli pempek dagangannya, sembari sesekali meneguk air untuk membatalkan puasa. Di tengah keramaian pasar, pria 44 tahun itu tak berhenti tersenyum menyapa pelanggan. Tangan kanannya cekatan membungkus pesanan, sementara tangan kirinya merapikan uang kembalian.

Baginya, berbuka puasa bisa dilakukan di sela-sela kesibukan. “Alhamdulillah, rezeki jangan ditolak. Buka puasanya bisa sambil melayani pembeli,” ujar Sidik sambil tersenyum, Selasa 3 Maret 2026.

Sudah 30 tahun Sidik berjualan pempek di kawasan Pasar Rangkasbitung. Profesi ini ditekuninya sejak masih remaja, mengikuti jejak usaha keluarga demi menyambung hidup. Pria asal Kecamatan Warunggunung itu mengaku, perjalanan berdagang tidak selalu mulus. Suka dan duka silih berganti menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.

“Namanya jualan pasti ada sepinya. Kadang dagangan tersisa dan harus dibawa pulang lagi untuk dijual besok. Tapi itu sudah biasa,” katanya.

Dengan sebuah gerobak sederhana di pojok pasar, Sidik biasanya mulai berjualan selepas salat Zuhur hingga dagangannya habis. Rutinitas itu tak berubah, termasuk saat bulan Ramadan. Pada bulan puasa, ia tetap setia menjajakan pempek buatan sendiri.

Sang istri pun selalu mendampingi, membantu melayani pembeli yang datang silih berganti menjelang waktu berbuka. “Kalau Ramadan justru lebih ramai. Banyak yang beli untuk menu buka puasa di rumah,” ucapnya.

Ia mengakui, pendapatannya selama bulan puasa meningkat dibandingkan hari biasa. Lonjakan pembeli menjadi berkah tersendiri di tengah kebutuhan yang juga meningkat. Meski sibuk berdagang, Sidik menegaskan tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ketika azan berkumandang, ia dan sang istri bergantian menunaikan salat di musala pasar.

“Ibadah tetap nomor satu. Jualan penting, tapi salat jangan sampai ditinggalkan,” katanya tegas.

Dari hasil berjualan pempek selama tiga dekade, Sidik kini mampu memiliki rumah sendiri. Bahkan, ia telah menitipkan putra pertamanya di sebuah pondok pesantren di Kota Bogor. “Alhamdulillah, dari jualan ini saya bisa sekolahkan anak ke pesantren. Itu kebanggaan buat saya,” katanya dengan mata berbinar.

Di usianya yang tak lagi muda, Sidik hanya berharap diberikan kesehatan agar tetap bisa beribadah dan mencari nafkah untuk keluarga. Baginya, ketekunan dan kesabaran adalah kunci bertahan selama 30 tahun menghidupi keluarga dari balik gerobak pempek.

Rekomendasi Berita