Bank Sampah Jaya Makmur, Ubah Limbah Jadi Rupiah

  • 04 Jan 2026 15:11 WIB
  •  Banten

KBRN, Pandeglang: Bank Sampah Jaya Makmur yang berlokasi di Desa Cigadung, Kecamatan Karang Tanjung, Kabupaten Pandeglang, bertransformasi menjadi instrumen ketahanan ekonomi warga sekaligus garda pelestarian lingkungan sejak 1 Januari 2014. Bermula dari kegelisahan terhadap tumpukan sampah plastik yang mencemari saluran air dan sawah, inisiatif swadaya masyarakat ini kini berkembang menjadi pusat edukasi pengelolaan limbah di Pandeglang.

Ketua Bank Sampah Jaya Makmur, Kemih Kurniadi menceritakan, awalnya ia cemas melihat sampah plastik yang menyumbat saluran air hingga memicu banjir ke rumah warga. Bermodal semangat, ia bersama tokoh masyarakat mendirikan tempat ini agar warga mau memilah sampah sejak dari dapur. Hasilnya nasabah kini bisa mengumpulkan tabungan kisaran Rp700.000 hingga Rp1.000.000 per tahun hanya dari menyetorkan barang bekas secara rutin.

Jenis sampah yang ditabung warga pun cukup beragam, mulai dari kardus, botol plastik, hingga kertas putih. Kemih menyebut untuk harganya mengikuti pasar atau fluktuatif misalnya botol plastik yang dihargai sekitar Rp2.500 per kilogram.

Baca juga: Masyarakat Komplek PCI Pandeglang Manfaatkan Pengelolaan Bank Sampah

Berkat konsistensi ini, Bank Sampah Jaya Makmur berhasil membawa Desa Cigadung masuk dalam Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat nasional yang diakui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dukungan pemerintah daerah pun terlihat dari bantuan bangunan Dana Alokasi Khusus (DAK) berupa alat timbang elektrik, hingga pemeliharaan sarana fisik secara berkala.

"Kami ingin masyarakat paham bahwa sampah yang kita hasilkan sendiri ya harus kita urus sendiri. Pemerintah punya keterbatasan anggaran dan tenaga, jadi bank sampah ini hadir untuk membantu mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPA agar lingkungan tidak tercemar," ucap kemih, Minggu (4/1/2026).

Namun, menurut Kemih tantangan besar berada pada fluktuasi harga pasar, di mana komoditas seperti kardus sempat berada di harga Rp3.000 per kilogram sebelum akhirnya jatuh, sementara harga botol plastik kotor bertahan di angka Rp2.500 per kilogram.

Baca juga: Perempuan Jadi Penggerak Utama Bank Sampah

"Bank sampah hadir untuk mengurangi beban pemerintah daerah, karena faktanya anggaran dan jangkauan layanan persampahan masih terbatas untuk melayani seluruh lapisan masyarakat secara tuntas," ucapnya.

Menurutnya tantangan keberlanjutan Bank Sampah memerlukan konsistensi edukasi dan penguatan manajemen relawan. Ia berharap ke depan kesadaran warga semakin tinggi karena sampah plastik seperti botol butuh waktu hingga 80 tahun untuk bisa hancur alami di tanah. Dengan memilah sampah dan menimbangnya di bank sampah, menurutnya warga kini bisa menyelamatkan lingkungan sekaligus mengisi dompet sendiri.

Baca juga: Pemkot Serang Gencarkan Program Bank Sampah

Sementara, salah satu nasabah, Raden Amalul yang berasal dari Kompleks Ambuleut mengaku rutin menyetorkan 3 hingga 4 kilogram sampah rumah tangga berupa duplek, kardus, hingga besi tiap bulannya. Ia merasakan dampak langsung terhadap kebersihan lingkungan pemukiman dan adanya tambahan pendapatan untuk kebutuhan harian.

"Rasanya sangat terbantu karena kita jadi terbiasa memilah sampah. Nilainya mungkin bagi sebagian orang nggak besar, tapi kalau dikumpulin rutin, lumayan banget buat jajan atau tambahan uang belanja," Kata Amalul.

Baginya, pemilahan sampah dari sumbernya bukan sekadar membuang limbah, melainkan upaya sadar dalam mengonversi barang tak bernilai menjadi rupiah. (Ridwan Maulana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....