Realisasi Investasi Lebak 2025 Capai Rp923 Miliar
- 17 Nov 2025 20:59 WIB
- Banten
KBRN, Lebak: Nilai realisasi investasi di Kabupaten Lebak, pada periode Januari–September 2025 mencapai Rp923 miliar, menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Capaian tersebut membuat pemerintah optimistis target investasi tahun 2025 sebesar Rp1 triliun dapat tercapai hingga akhir tahun.
Analis Kebijakan Madya Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Lebak, Robertus Erwin, mengatakan capaian hingga triwulan III ini merupakan sinyal positif bagi iklim investasi di Lebak. “Kami optimistis target Rp1 triliun bisa tercapai pada Desember, karena tren realisasi investasi terus meningkat setiap triwulannya,” ujarnya, di Rangkasbitung, Senin (17/11/2025).
Dari total Rp923 miliar, investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi sebesar Rp790 miliar, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp132 miliar. Investasi tersebut tersebar pada 297 perusahaan dan 2.094 proyek.
Penyerapan tenaga kerja turut menunjukkan dampak positif investasi. Sebanyak 4.538 tenaga kerja lokal dan 12 tenaga kerja asing (TKA) terserap selama periode tersebut. “Tingginya penyerapan tenaga kerja lokal ini sangat membantu peningkatan pendapatan masyarakat dan mempercepat pengendalian kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem sesuai Instruksi Presiden Nomor 08 Tahun 2025,” kata Robertus.
Ia menjelaskan pemerintah daerah terus memberikan kemudahan perizinan dan nonperizinan bagi pelaku usaha melalui DPMPTSP. “Kemudahan proses perizinan akan menumbuhkan usaha baru dan membuka lapangan pekerjaan, sehingga ekonomi daerah tumbuh lebih cepat,” ujarnya.
Capaian Rp923 miliar tersebut bersumber dari investasi semester I sebesar Rp272 miliar, semester II Rp273 miliar, dan semester III Rp377 miliar. Peningkatan nilai pada setiap triwulan menunjukkan pergerakan signifikan dari para investor.
Robertus menyampaikan, data hilirisasi Januari–September 2025 menunjukkan kontribusi sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp45 miliar, perikanan dan kelautan Rp9 miliar, serta mineral Rp2 miliar. “Hilirisasi masih menjadi fokus karena Lebak memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah,” ucapnya.
Kontribusi sektor primer terhadap investasi tercatat Rp133 miliar atau 14 persen, sektor sekunder Rp196 miliar atau 22 persen, dan sektor tersier mendominasi dengan Rp593 miliar atau 64 persen. Total keseluruhan mencapai Rp923 miliar.
Pemerintah daerah, kata Robertus, akan terus menggencarkan sosialisasi dan promosi potensi investasi kepada para calon investor. Potensi di sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pariwisata dinilai sangat menjanjikan. “Kami terus berkolaborasi untuk memperkenalkan potensi Lebak yang begitu luas dan kompetitif,” ujarnya.
Selain potensi alam, infrastruktur yang berkembang pesat juga menjadi daya tarik Lebak. Kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti Tol Serang–Panimbang dan Commuter Line Rangkasbitung–Tanah Abang memberikan aksesibilitas yang lebih baik. “Dengan adanya PSN ini, Lebak semakin dilirik investor, terutama untuk sektor perumahan di kawasan Maja, Curugbitung, dan Rangkasbitung,” kata Robertus.
Sejumlah negara tercatat menjadi penyumbang PMA terbesar di Lebak, yakni Korea Selatan Rp57 miliar, Malaysia Rp53 miliar, Singapura Rp17 miliar, Tiongkok Rp2 miliar, dan Thailand Rp1 miliar. Pergerakan modal asing ini menunjukkan kepercayaan kuat terhadap stabilitas ekonomi daerah.
Investasi terbesar berada pada subsektor transportasi dan telekomunikasi sebesar Rp253 miliar, disusul perumahan, kawasan industri dan perusahaan Rp133 miliar, perdagangan dan reparasi Rp87 miliar, perikanan Rp68 miliar, serta industri lainnya Rp61 miliar. “Kami berharap seluruh investasi ini mampu mendorong peningkatan PDRB dan pada akhirnya mewujudkan kesejahteraan masyarakat Lebak,” ucap Robertus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....