Pelestarian Bahasa Daerah Terkendala Minimnya Karya
- 29 Jan 2026 14:28 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Karya sastra berbahasa daerah di Provinsi Banten dinilai masih minim dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Berdasarkan inventarisasi Kantor Bahasa Provinsi Banten, sejak 2018 hingga 2025 baru tercatat sekitar 15 karya sastra berbahasa daerah yang berhasil dihimpun.
Widya Basa Ahli Muda Kantor Bahasa Provinsi Banten, Nurseha menyampaikan, jumlah tersebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan kekayaan bahasa daerah yang dimiliki Banten, seperti Jawa dialek Banten, Sunda dialek Banten, dan Melayu dialek Betawi.
"Minimnya jumlah karya dipengaruhi oleh keterbatasan publikasi, rendahnya minat penulisan, serta belum banyaknya lembaga pengayom sastra daerah di tingkat lokal," katanya saat berbincang dalam program siaran seni tradisional dan budaya PRO 1 RRI Banten, Rabu, 28 Januari 2026.
Baca juga: RUU Bahasa Daerah Kandas, Eksistensi Bahasa Daerah Kian Terancam
Menurutnya, sebagian besar karya yang ditemukan berbentuk puisi, sementara cerpen dan novel masih sangat terbatas. Ia menjelaskan, menulis cerpen membutuhkan penguasaan bahasa yang lebih mendalam, mulai dari alur hingga penokohan, sehingga banyak penulis pemula memilih puisi.
“Dari hasil inventarisasi kami, kurang lebih ada 15 karya sejak 2018 hingga 2025. Ini tentu menjadi bahan evaluasi bersama agar sastra daerah mendapat ruang yang lebih baik,” kata Nurseha.
Di era digital, sejumlah karya sebenarnya muncul di media sosial dan blog, namun belum semuanya dapat diinventarisasi karena persoalan konsistensi publikasi dan validitas laman. Kantor Bahasa mensyaratkan sumber yang aktif dan terpercaya agar dapat dihitung sebagai data resmi.
Baca juga: Bahasa Daerah Representasikan Budaya dan Identitas Banten
Dia menilai kondisi in memprihatinkan, karena bahasa daerah merupakan identitas budaya. Jika tidak dipublikasikan dan dinikmati masyarakat, keberlangsungan bahasa daerah dikhawatirkan akan melemah.
Kantor Bahasa Provinsi Banten pun mengajak para sastrawan dan penulis daerah untuk melaporkan karya mereka, baik yang diterbitkan secara cetak maupun daring. ‘Dengan langkah ini diharapkan Masyarakat dapat memperkaya dokumentasi sastra daerah sekaligus memperkuat pelestarian bahasa ibu di Banten,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....