Bersyukur Jadi Kunci Terhindar dari Sifat FOMO
- 01 Okt 2026 16:28 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang – Perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin mudah melihat kehidupan dan pencapaian orang lain melalui layar ponsel. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi tantangan dalam menjaga rasa syukur karena seseorang berpotensi terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Sekretaris MUI Provinsi Banten, Ustaz Deni Rusli, mengatakan fenomena Fear of Missing Out atau FOMO dan perbandingan sosial dapat membuat seseorang merasa kekurangan meskipun berbagai kebutuhan dasar telah terpenuhi. Menurutnya, rasa syukur menjadi salah satu cara untuk mengubah cara pandang terhadap nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
| Baca juga: Esensi Bersyukur Bukan Sekadar Ucapan |
“Di era modern yang didominasi media sosial dan arus informasi yang cepat, kita sering terjebak dalam fenomena FOMO, Fear of Missing Out, dan sosial comparison, membanding-bandingkan hidup,” ucap Ustaz Deni dalam program Mutiara Pagi bersama RRI Pro 1 Banten, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, masyarakat kerap membandingkan kehidupan sehari-hari dengan pencapaian terbaik orang lain yang ditampilkan melalui media sosial. Padahal, apa yang terlihat di layar ponsel belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.
“Kita kerap kali membandingkan realitas kehidupan kita yang biasa saja dengan highlight atau pencapaian terbaik orang lain di layar ponsel,” ujarnya.
| Baca juga: Tiga Cara Mewujudkan Rasa Syukur |
Ustaz Deni menyebut salah satu dampaknya adalah munculnya ilusi kekurangan, yakni perasaan tidak pernah cukup meskipun kesehatan, keluarga, dan berbagai kebutuhan kehidupan telah dimiliki. Kondisi tersebut juga dapat berkembang menjadi kufur nikmat terselubung karena seseorang lebih fokus pada sesuatu yang belum dimiliki dibandingkan mensyukuri nikmat yang telah ada.
“Kita merasa tidak pernah cukup, padahal kecukupan fisik dan kesehatan sudah terpenuhi,” ucapnya.
Ia mengajak masyarakat mengubah pola pikir dari memikirkan sesuatu yang belum dimiliki menjadi melihat apa yang telah dipercayakan Allah untuk dikelola dengan baik. Menurutnya, perubahan cara pandang tersebut dapat membantu seseorang lebih menghargai nikmat sekaligus mengurangi kecenderungan membandingkan kehidupan dengan orang lain.
“Syukur mengubah pandangan dari apa yang belum saya miliki menjadi apa yang sudah Allah percayakan kepada saya untuk dikelola dengan baik,” katanya.
Ustaz Deni juga mengingatkan umat agar dalam urusan dunia tidak menjadikan orang yang lebih berada sebagai ukuran utama kehidupan. Ia mengutip ajaran Rasulullah SAW agar manusia melihat orang yang berada di bawah dalam urusan dunia, sementara dalam urusan ibadah dan ilmu, seseorang justru dianjurkan melihat orang yang lebih baik sebagai motivasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....