Pendidikan dan Arah Pembangunan Berkelanjutan

  • 01 Mei 2026 20:48 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID : Tanggal 2 Mei setiap tahunnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Pada setiap peringatan Hardiknas tersebut diskursus publik kembali dipenuhi dengan narasi optimisme, tentang generasi masa depan, peningkatan kualitas pendidikan, dan cita-cita pembangunan yang lebih inklusif.

Tahun ini, tema “Menguatkan Partisipasi Alam, Mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua” menghadirkan dimensi yang lebih reflektif bahwa pendidikan tidak bisa lagi dipisahkan dari konteks ekologis yang menopangnya. Namun di balik narasi tersebut, terselip satu realitas yang perlu dihadapi secara jernih, kita berbicara tentang masa depan, tetapi dalam praktiknya, sebagian fondasi masa depan itu justru sedang tergerus hari ini.

Saat ini Indonesia seperti dua arah yang berjalan bersamaan. Secara makro, Indonesia menunjukkan kinerja ekonomi yang relatif stabil, sebagaimana dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik. Stabilitas ini menjadi sinyal positif bagi investasi, pembangunan infrastruktur, dan perluasan kesempatan kerja.

Namun pada saat yang sama, indikator lingkungan menunjukkan tekanan yang meningkat. Data dari berbagai pemantauan independen mencatat bahwa deforestasi Indonesia pada 2025 mencapai ratusan ribu hektare, dengan kecenderungan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Global Forest Watch secara konsisten menunjukkan bahwa wilayah seperti Kalimantan masih menjadi pusat kehilangan tutupan hutan. Dalam perspektif yang lebih luas, Indonesia memiliki sekitar 61 persen wilayah berupa kawasan hutan yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar, ini merupakan aset ekologis yang bernilai global. Artinya, setiap perubahan pada lanskap ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga berkontribusi pada dinamika iklim global.

Kedua fakta ini, pertumbuhan ekonomi dan tekanan ekologis memang tidak selalu bertentangan, tetapi juga tidak otomatis sejalan. Di sinilah tantangan pembangunan modern berada, bagaimana memastikan keduanya dapat berjalan dalam keseimbangan.

Dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change, ditegaskan bahwa perubahan iklim dan degradasi lingkungan bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil akumulasi aktivitas manusia, terutama dalam perubahan tata guna lahan, eksploitasi sumber daya, dan pola konsumsi.

Dampaknya semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, perubahan pola hujan, meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, hingga penurunan kualitas lingkungan hidup di berbagai wilayah. Namun penting untuk dicatat, kondisi ini bukan sekadar konsekuensi dari satu sektor atau satu kebijakan, melainkan interaksi kompleks dari berbagai keputusan pembangunan.

Dengan demikian, pendekatan yang dibutuhkan juga tidak bisa parsial. Ia harus sistemik, melibatkan ekonomi, kebijakan publik, dan yang sering kali terabaikan, pendidikan.

Tema Hardiknas tahun ini menempatkan ‘partisipasi alam’ sebagai bagian integral dari pendidikan bermutu. Frasa ini mengandung makna yang dalam. Alam tidak lagi diposisikan sebagai objek yang diamati, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.

Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan lingkungan. Hutan, sungai, dan ekosistem bukan sekadar latar belakang, melainkan sumber pengetahuan yang hidup. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang kontekstual dan membumi.

Namun implementasinya masih menghadapi tantangan. Sistem pendidikan modern cenderung menekankan capaian akademik dan kompetensi teknis, sementara dimensi ekologis belum sepenuhnya menjadi arus utama. Akibatnya, keterkaitan antara pengetahuan dan keberlanjutan sering kali terputus.

Padahal, di masa depan, hampir semua sektor, dari industri hingga pemerintahan akan dihadapkan pada isu keberlanjutan. Tanpa fondasi pemahaman yang kuat sejak dini, risiko pengambilan keputusan yang tidak mempertimbangkan dampak ekologis akan tetap ada.

Salah satu cara paling objektif untuk melihat masa depan adalah dengan memahami tren saat ini. Ketika kehilangan hutan terjadi dalam skala besar, ketika kualitas lingkungan menurun di berbagai wilayah, maka implikasinya terhadap masa depan menjadi nyata dan terukur.

Ini bukan semata persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut ketahanan ekonomi dan sosial. Ekosistem yang sehat berperan dalam menjaga ketersediaan air, stabilitas iklim lokal, hingga produktivitas pertanian. Dengan kata lain, keberlanjutan alam adalah fondasi dari keberlanjutan kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran strategis sebagai jembatan antara pengetahuan dan tindakan. Ia membentuk cara berpikir, yang pada akhirnya menentukan arah kebijakan dan praktik pembangunan.

Tema Hari Pendidikan tahun ini “Menguatkan Partisipasi Alam, Mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua” mengisyaratkan perlunya perubahan pendekatan. Bukan lagi melihat pembangunan dan lingkungan sebagai dua kutub yang saling bertentangan, tetapi sebagai sistem yang saling bergantung.

Langkah ke depan dapat diarahkan pada beberapa prinsip utama. MengIntegrasikan literasi lingkungan dalam kurikulum inti, bukan sebagai pelengkap. Lalu penguatan pembelajaran berbasis konteks lokal dan ekosistem setempat. Dilanjutkan dengan pengembangan kebijakan pendidikan yang selaras dengan agenda keberlanjutan nasional

Kemudian yang paling penting adalah kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya relevan secara ekologis, tetapi juga strategis dalam membangun ketahanan jangka panjang.

Hari Pendidikan Nasional adalah momen untuk melihat kembali hubungan antara apa yang kita pelajari dan apa yang kita lakukan. Jika pendidikan berbicara tentang masa depan, maka ia tidak bisa mengabaikan kondisi hari ini. Kita tidak sedang mempersiapkan masa depan dalam ruang kosong. Kita sedang membangunnya, sedikit demi sedikit, melalui keputusan yang diambil sekarang.

Tema Hari Pendidikan tahun ini mengingatkan bahwa alam bukan sekadar latar, tetapi bagian dari proses. Bahwa pendidikan bermutu tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keberlanjutan kehidupan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah kita mampu membayangkan masa depan yang lebih baik, melainkan apakah kita cukup bijak untuk tidak merusak apa yang akan menjadi masa depan itu sendiri.

Penulis adalah anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito (TKPSDA WS Barito), mewakili unsur non-pemerintah dalam penguatan tata kelola sumber daya air yang partisipatif, transparan, dan berbasis keberlanjutan.

Selain itu, penulis merupakan Head of Project Operations di Nayaka Foundation, organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang advokasi kebijakan publik, keadilan sumber daya alam, dan pemberdayaan masyarakat, aktif dalam riset kebijakan, pendampingan komunitas terdampak industri ekstraktif, serta pengembangan model tata kelola pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.



Ditulis oleh: Yamadipati Eka Prasetya

(Aktivis dan Pengamat lingkungan)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....