Tradisi Bubur Asyura 10 Muharram Masyarakat Banjar

  • 16 Jul 2024 09:11 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Mendengar 10 Muharram maka tidak terlepas kaitannya dengan bubur Asyura. Di Kalimantan Selatan bubur Asyura sudah membumi karena dilakukan hampir oleh seluruh masyarakat Banjar. Hal tersebut disampaikan Abd. Adim, SE., M.Ag dalam acara Pandiran Baisukan di Pro.4 RRI Banjarmasin.

"Setiap 10 Muharram bisa dibilang menjadi tren tersendiri bagi semua kalangan, yang muda maupun tua. Sebuah fenomena yang luar biasa. Memasak bubur dalam jumlah banyak untuk kemudian di bagi-bagikan."katanya

Abd. Adim yang juga seorang dosen Fakultas Ushuluddin & Humaniora UIN Antasari Banjarmasin menyatakan bahwa menikmati bubur asyura pada 10 Muharram merupakan sebuah tradisi masyarakat Banjar yang penuh dengan filosofi , yakni sebuah hal yang bermakna bahwa kita memang harus kembali kepada yang fitrahnya.

Bubur Asyura bukan sekedar bubur biasa. Selain pengolahannya yang dalam jumlah banyak, bubur tersebut juga perpaduan sayur dan rempah-rempah yang terdiri dari 41 macam.

"Angka 41 bagi masyarakat Banjar dianggap sakral. Hal itu bisa dilihat dari setiap kegiatan masyarakat Banjar jika ada pernikahan atau selamatan, orang Banjar akan menyiapkan wadai atau kue 41 macam." ujar Abd. Adim menjelaskan.

Sementara itu Andrew Gazali seorang mahasiswa Aqidah & Filsafat Islam UIN Antasari yang turut hadir dalam acara Pandiran Baisukan juga menyatakan rasa kagum dengan tradisi bubur Asyura di Kalimantan Selatan.

"Saya pernah melihat tradisi 10 Muharram ini namun tidak sebanyak di Kalimantan Selatan yang serentak dalam melaksanakannya. Hal ini tentu bagus jika terus dilestarikan agar generasi mendatang juga bisa meneruskan tradisi yang penuh kebaikan, masak bersama-sama dan kemudian dibagikan."kata Gazali, yang memang baru satu tahun tinggal di Banjarmasin karena menempuh pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut Abd. Adim, SE., M.Ag juga menyatakan bahwa 10 Muharram dan bubur Asyura merupakan sebuah momen untuk mengikat tali silaturahmi, bulan yang penuh keagungan sekaligus sebagai bulan yang di anjurkan untuk lebih lagi dalam berbuat kebaikan diantaranya dengan berpuasa maupun berbagi untuk sesama.

Sejarah panjang yang menyatakan bahwa bulan Muharram adalah bulan mulia yakni dimana awal Nabi berhijrah sehingga di perhitungkan bulan hijrah tersebut diawali dengan bulan Muharram. Di waktu itulah terjadi berbagai peristiwa dari para Rasul ataupun Nabi.

"Dikalangan umat muslim puncaknya itu sebelum Muharram. Maka peristiwa-peristiwa yang luar biasa itu kemungkinan bagi orang-orang Banjar di Kalimantan Selatan merupakan kabar yang memberikan refleksi agar memiliki rasa syukur yang tinggi sehingga ada nilai tauladan," ujar Abd Adim.

Tradisi bubur Asyura sangat releven untuk dilakukan hingga saat ini kerena memiliki korelasi yang erat dengan tradisi keagamaan pada masyarakat Banjar. Sebagaimana dilakukan pada Kesultanan Banjar sebelumnya bahwa pada pelaksanaan tradisi bubur Asyura sebelum bubur dibagikan untuk dinikmati akan diawali dengan pembacaan doa selamat dengan harapan mendapat keberkahan dari Allah SWT.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....