Kemarau Panjang Dorong Harga Pangan di Banjarmasin Naik

  • 05 Okt 2026 14:36 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — Kemarau berkepanjangan mulai berdampak terhadap harga sejumlah komoditas pangan di Kota Banjarmasin. Minimnya curah hujan menyebabkan produksi dan pasokan sejumlah komoditas mengalami penurunan.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga, terutama beras lokal atau beras Banjar dan cabai. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Banjarmasin, Ignasius Rizki Perdana Salan, mengatakan kenaikan harga beras lokal tidak hanya dipengaruhi kekeringan, tetapi juga intrusi air laut yang berdampak terhadap mutu dan kualitas hasil produksi.

"Selain kekeringan, pengaruh intrusi air laut saat ini menyebabkan mutu dan kualitas beras lokal tidak bagus seperti biasanya. Kondisi itu membuat harga beras lokal naik kurang lebih 20 persen dari harga semula," ujar Ignasius.

Menurutnya, kenaikan harga beras lokal tersebut turut menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil terhadap angka inflasi di Kota Banjarmasin.Selain beras, harga cabai juga mengalami kenaikan cukup tinggi. Ignasius menyebut kenaikannya saat ini hampir mencapai 30 persen.

"Kalau cabai saat ini memang lumayan naik. Selain itu kenaikan harga beras lokal juga memberikan andil terhadap angka inflasi," katanya.

Sementara itu, harga telur ayam ras juga terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kenaikan tersebut dinilai masih relatif terkendali karena berada di kisaran Rp1.000 hingga Rp2.000.

Ignasius mengatakan pasokan telur ayam ras di Banjarmasin masih terbantu melalui kerja sama antardaerah dengan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dan Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. "Jadi cukup terbantu dalam mengendalikan harga karena adanya kerja sama itu. Yakni dari daerah Kabupaten Blitar dan Kabupaten Sidrap," ucapnya.

Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut turut dirasakan masyarakat. Heny, warga Pemurus Baru, mengaku harga beras Banjar yang sebelumnya sekitar Rp13 ribu per liter kini naik menjadi Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per liter.

"Naiknya lumayan sekarang. Karena mahal, jadi saya beralih ke beras biasa dulu, tapi bukan Banjar lagi," kata Heny.

Tidak hanya beras, Heny juga mengeluhkan kenaikan harga cabai. Sebagai konsumen yang terbiasa mengonsumsi sambal, kenaikan harga cabai cukup dirasakan dalam pengeluaran sehari-hari.

"Beli satu ons sudah Rp10 ribu, cukup mahal karena itu hanya cabai kecil. Belum lagi cabai besar merah, hijau sama tomat biasanya beli Rp10 ribu sudah bisa campur semua," ucapnya.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan RI untuk wilayah Kota Banjarmasin, sejumlah komoditas memang menunjukkan kenaikan harga pada periode 1 September hingga 3 Oktober 2026. Harga cabai merah keriting tercatat naik dari Rp64 ribu menjadi Rp77.500 per kilogram dan cabai rawit merah naik dari Rp80 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram.

Kemudian, cabai merah besar juga naik dari Rp64 ribu menjadi Rp77.500 per kilogram. Kenaikan turut terjadi pada telur ayam ras, dari Rp26.250 menjadi Rp27.500 per kilogram dan daging ayam ras naik dari Rp40 ribu menjadi Rp47.500 per kilogram.

Untuk komoditas beras, kenaikan juga terjadi pada beras premium, meski relatif lebih rendah dibandingkan beras lokal. Harganya naik dari Rp17.800 menjadi Rp18 ribu per kilogram.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....