Edukasi Kesehatan Perlu Disesuaikan dengan Karakter Masyarakat

  • 04 Okt 2026 18:02 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Edukasi kesehatan lebih efektif ketika menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh masyarakat umum.
  • Pendekatan penyampaian informasi kesehatan harus disesuaikan dengan karakteristik audiens, termasuk usia, tingkat pendidikan, lingkungan, dan kebiasaan.
  • Edukator kesehatan tidak hanya harus menguasai materi tetapi juga memahami karakter dan latar belakang audiens untuk memaksimalkan penerimaan pesan.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Edukasi kesehatan dinilai lebih mudah diterima masyarakat jika disampaikan dengan bahasa sederhana dan disesuaikan dengan karakter sasaran. Pendekatan tersebut membuat informasi kesehatan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Duta Kesehatan Kalimantan Selatan 2026, dr. Nadya Aulia Rahmandini, dalam program Ngobrol Bareng Komunitas RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 3 Oktober 2026. Menurutnya, bahasa dan cara penyampaian perlu disesuaikan agar informasi kesehatan tidak terasa berat bagi masyarakat.

Menurutnya penyampaian informasi juga perlu mempertimbangkan usia, tingkat pendidikan, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat. Karena itu, edukator kesehatan tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga memahami karakter audiens yang menjadi sasaran.

“Pertama kita harus kenalin dulu siapa kira-kira audiensnya, apakah mama-mama, acil-acil, abah-abah atau mungkin pelajar,” ujar Nadya. “Dari sana kita bisa menentukan tingkat pendidikan masyarakat dan menyesuaikan istilah yang digunakan.”

Nadya mengatakan edukasi kesehatan tidak selalu harus dilakukan dalam suasana formal. Interaksi yang lebih cair, termasuk penggunaan humor yang relevan, dapat membuat masyarakat lebih nyaman menerima informasi.

“Jangan memosisikan kita sebagai pengedukasi lebih tinggi dari mereka, karena nanti yang diedukasi akan merasa dihakimi,” kata Nadya. “Kita harus mengemas edukasinya lebih menarik dan jangan lupa tambahkan sedikit sense of humor.”

Sementara itu, Duta Kesehatan Indonesia 2025, apt. Harju Maisya, menilai pendekatan serupa penting saat menyampaikan informasi mengenai penyakit yang sensitif, seperti tuberkulosis atau TBC. Edukasi perlu dilakukan secara persuasif agar penderita tidak merasa dikucilkan dan tetap disiplin menjalani pengobatan hingga tuntas.

“Kalau kita penyuluhan di sekolah, misalnya menjelaskan TBC dengan panjang lebar, anak-anak pasti bengong,” ujar Maisya. “Paling enak dikasih games, sedangkan kalau sasarannya lansia kita bisa duduk bersama agar mereka merasa nyaman.”

Pendekatan yang sesuai karakter sasaran diharapkan membuat edukasi kesehatan lebih efektif dan tidak menimbulkan jarak antara pemberi informasi dengan masyarakat. Penyampaian yang komunikatif juga dapat membantu membangun kesadaran masyarakat untuk menerapkan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....