Pola Asuh Hangat Bantu Bentuk Anak Tangguh
- 04 Okt 2026 20:07 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Pola asuh hangat dinilai lebih efektif membentuk anak yang tangguh dibandingkan dengan mendidik menggunakan kekerasan.
- Kehangatan dalam pola asuh harus disertai dengan batasan yang jelas dan tanggung jawab untuk membantu anak menghadapi tantangan kehidupan.
- Rimalia Karim, Ketua PW Salimah Kalimantan Selatan, menjelaskan konsep ini dalam program Inspirasi Kehidupan RRI Pro1 Banjarmasin pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pola asuh hangat dinilai lebih tepat untuk membentuk anak yang tangguh daripada mendidik dengan kekerasan. Kehangatan tetap perlu disertai batasan dan tanggung jawab agar anak mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Hal tersebut disampaikan Ketua PW Salimah Kalimantan Selatan, Rimalia Karim, dalam program Inspirasi Kehidupan RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 3 Oktober 2026. Menurutnya, pola asuh yang hangat dapat membantu anak memiliki ketangguhan tanpa harus menggunakan kekerasan.
Menurutnya anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan atau kegagalan. Pengalaman jatuh, gagal, kecewa, dan menghadapi persoalan justru dapat menjadi proses bagi anak untuk belajar bangkit serta mengelola emosi.
“Kalau kita menghadirkan pengasuhan yang hangat, anak bisa menjadi tangguh,” ujar Rimalia. “Keras itu berbeda dengan tangguh, karena sesuatu yang terlalu keras justru mudah rapuh dan patah.”
Menurut Rimalia, ketangguhan membuat anak mampu kembali bangkit ketika menghadapi kegagalan. Anak juga perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, membangun cara berpikir yang sehat, dan menghadapi masalah tanpa merasa dirinya tidak berharga.
“Kalau kita sebut tangguh itu lentur, jatuh bangkit, jatuh bangkit,” ucap Rimalia. “Yang kita harapkan, ketika dia jatuh, dia bisa bangkit karena kehidupan yang kita temui adalah jatuh bangunnya seseorang.”
Ia menilai orang tua perlu membedakan ketegasan dan kekerasan dalam mendidik anak. Ketegasan tetap dibutuhkan untuk menetapkan aturan, tetapi penyampaiannya harus membuat anak merasa aman dan tetap memiliki keluarga sebagai tempat kembali.
“Kalau orang yang tegas, hubungan anak masih aman dan anak merasa nyaman,” kata Rimalia. “Kalau dia salah, dia tahu rumah ini masih menerima, sedangkan kekerasan membuat anak takut dan merasa hubungan tersebut mengancam.”
Rimalia menambahkan pola asuh hangat bukan berarti membebaskan anak dari berbagai kesulitan. Orang tua justru perlu mendampingi anak menghadapi persoalan secara bertahap agar tumbuh daya juang, kemampuan mengambil keputusan, dan kesiapan menghadapi perubahan kehidupan.
Pola asuh yang menggabungkan kehangatan, ketegasan, dan tanggung jawab diharapkan membantu anak berkembang secara emosional maupun sosial. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar menghadapi kegagalan tanpa kehilangan kepercayaan diri dan rasa aman dalam keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....