Film Hantu Jangan Jadi Sumber Keyakinan Umat
- 17 Sep 2026 07:15 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Film horor tidak dapat dijadikan sumber ajaran tentang alam gaib
- Iman kepada yang gaib berbeda dengan mempercayai seluruh mitos tentang hantu
- Al-Qur'an dan Sunnah menjadi dasar utama dalam memahami perkara gaib
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Film hantu perlu disikapi secara kritis karena tidak semua gambaran tentang alam gaib di dalamnya sesuai dengan akidah Islam. Cerita tentang arwah penasaran, tempat angker, benda keramat, hingga kesurupan merupakan bagian dari budaya populer yang dikemas sebagai hiburan.
Film horor kini tidak hanya hadir di bioskop, tetapi juga mudah diakses melalui televisi dan berbagai platform digital. Kemudahan tersebut membuat masyarakat semakin sering bersentuhan dengan gambaran tentang kehidupan setelah kematian dan makhluk yang tidak kasatmata.
“Islam memang mengakui adanya perkara gaib, tetapi mengimani yang gaib tidak berarti mempercayai semua cerita tentang yang gaib. Seorang Muslim harus membedakan mana yang bersumber dari wahyu, mana yang merupakan mitos, dan mana yang hanya merupakan imajinasi dalam film,” ujar Prof. Dr. Muhammad Zainal Abidin, M.Ag., Guru Besar Bidang Filsafat Islam UIN Antasari dalam program Kuliah Subuh RRI PRO1 Banjarmasin, Kamis, 17 September 2026.
Dosen FUH UIN Antasari tersebut juga menjelaskan bahwa akidah Islam memiliki dasar yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah sehingga tidak dapat dibangun berdasarkan cerita masyarakat atau gambaran yang muncul di layar. Film dapat menggunakan simbol, mitos, efek suara, dan dramatisasi untuk membuat sesuatu yang tidak terlihat seolah-olah benar-benar nyata.
“Di dalam enam rukun iman tidak ada kewajiban untuk beriman kepada hantu sebagai kategori keimanan tersendiri. Al-Qur'an tidak mengatakan bahwa seorang Muslim harus mempercayai hantu sebagaimana hantu digambarkan dalam film-film horor,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa Islam memberikan gambaran mengenai kehidupan manusia setelah kematian melalui konsep barzakh hingga datangnya hari kebangkitan. Karena itu, gambaran seseorang yang meninggal kemudian kembali ke dunia sebagai hantu untuk mengganggu manusia tidak bisa begitu saja ditempatkan sebagai ajaran Islam.
“Film boleh menggambarkan hantu, tetapi akidah tidak boleh dibangun dari film. Yang menjadi persoalan bukan sekadar filmnya, melainkan bagaimana seorang Muslim mampu menikmati karya sebagai hiburan tanpa menjadikan fiksi, legenda, atau mitos sebagai dasar keyakinan,” ucap Prof. Muhammad Zainal Abidin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....