Pesan Larangan Tampung Air Hujan OMC Adalah Hoaks

  • 05 Sep 2026 11:04 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Pesan berantai soal larangan menampung air hujan mendadak ramai di media sosial. Disebutkan air hujan diduga mengandung bahan tertentu sehingga tidak boleh dimanfaatkan. Bahkan pesan itu juga dilengkapi infografis yang berisi imbauan agar masyarakat tidak menampung maupun menggunakan air hujan tersebut. Tapi, siapa yang membuat dan menyebarkan informasi itu sampai sekarang belum jelas.

Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, juga mengaku belum mengetahui sumber pesan tersebut. Ia mengatakan, kalau informasi itu dikaitkan dengan hujan dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sejauh ini hujan yang dihasilkan OMC tidak berbahaya.

"Kami tidak mengetahui itu sumbernya dari mana. Saat ini memang hujan OMC yang kita ketahui bersama, yang sudah-sudah itu tidak berbahaya," kata Ronny, Jumat 4 September 2026 di Posko Karhutla.

Ronny menambahkan, pihaknya juga belum bisa memastikan apakah pesan tersebut dikeluarkan oleh lembaga atau instansi tertentu. "Kami tidak mengetahui itu yang mengeluarkannya dari mana, institusi mana, ataupun lembaga mana yang mengeluarkannya. Jadi mungkin kami masih belum bisa berkomentar terkait hal tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, Adhitya Prakoso, memastikan pesan berantai tersebut hoaks. Adhitya menjelaskan, bahan yang digunakan dalam OMC sebenarnya bukan bahan berbahaya. OMC menggunakan natrium klorida atau garam halus untuk membantu proses pembentukan hujan.

"Untuk bahan hujan buatan OMC sebenarnya tidak berbahaya, karena murni menggunakan natrium klorida atau garam halus. Tidak ada bahan tambahan lain untuk hujan buatan OMC," kata Adhitya, Sabtu 5 September.

Meski begitu, bukan berarti air hujan saat kondisi karhutla bisa langsung ditampung dan digunakan begitu saja. Menurut Adhitya, yang perlu diperhatikan justru kondisi udara yang saat ini dipenuhi partikel asap dan debu akibat karhutla. Saat hujan turun, partikel-partikel tersebut bisa ikut terbawa dan tercampur ke dalam air hujan.

"Jadi hujan saat musim kemarau tidak baik jika ditampung untuk penggunaan bagi manusia dan hewan," katanya.

Kalau masyarakat tetap ingin memanfaatkan air hujan, Adhitya menyarankan air tersebut terlebih dahulu diendapkan dan disaring.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....